Rahmah el Yunusiyah, Ayam Betina yang Berkokok

Jika ada perempuan yang membuat repot Soekarno, Rahmah el Yunusiyah-lah orangnya. Sikap keras kepala dan penentangannya pada Presiden RI yang pertama itu, yang membuat Rahmah berseberangan dengan Soekarno.

Sikapnya menentang Soekarno, karena ia menganggap Soekarno telah melenceng dari demokrasi terpimpinnya dan kedekatannya dengan kaum komunis, membuatnya dikucilkan. Sekali pun Rahmah adalah anggota MPRS dari Sumatera Bagian Tengah, ia memilih bergerilya di hutan ketimbang harus ikut dengan kemauan pemerintah pusat. Rahmah mengalami masa-masa sulit di dalam hutan Sumatera, provinsi Jambi pada tahun 1950-an itu. Namun ia teguh pada pendirian, menentang komunis di bumi Minang.

Tidak banyak generasi masa kini yang kenal siapa Rahmah el Yunusiyah. Namun, jika membayangkan seberapa jauh gema kekuatannya, bisa dibayangkan ia bukan perempuan sembarangan.

Perempuan yang lahir di Padang Panjang, 20 Desember 1900 dari pasangan ulama Minangkabau Muhammad Yunus bin Imanuddin dan Rafiah ini adalah perintis sekolah pesantren putri Diniyyah Putri di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 1920.

Inilah pesantren putri yang menjadi cikal bakal pendidikan Islam modern di awal abad 19. Dengan konsep pendidikan berasrama, Rahmah mendidik murid-murid perempuannya pendidikan umum dan agama. Tidak kurang 20 ribu alumni telah dihasilkan pondok pesantren ini.

Muridnya pun merentang dari berbagai kalangan dan bangsa. Rasuna Said, salah seorang pahlawan nasional dan penggerak kaum perempuan, adalah salah satunya.

Tokoh-tokoh besar lain yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren ini adalah Datin Aisyah Gani, bekas menteri di masa pemerintahan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. Nama besar pesantren ini membuat banyak murid dari negara tetangga ikut menimba ilmu di sini. Selain Malaysia, murid-murid lainnya juga berasal dari Brunei dan Singapura.

Rahmah dengan konsep sekolah khusus wanita, tidak saja mengajari cara belajar, membaca, atau menulis, juga pelajaran bahasa Belanda, gimnastik, menenun, menyulam, menjahit serta kebidanan. Pelajaran retorika atau berpidato di atas mimbar juga diajarkan, sehingga Diniyyah Puteri digelari tempat ayam betina diajar berkokok.

Tapi Rahmah tidak patah semangat. Baginya, langkah untuk memajukan perempuan, meski itu berbasis agama sekalipun, pasti menghadapi tentangan dan celaan.

Rahmah sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Ia hanya disekolahkan hingga kelas tiga di sekolah formal. Ia kemudian menimba ilmu umum dan agama secara otodidak dan berguru pada kakaknya, seorang ulama terkenal, Zainuddin Labay.

Dalam bukunya Islam dan Adat Minangkabau, Buya Hamka sempat menyinggung kiprah Rahmah di dunia pendidikan dan pembaharu Islam di Minangkabau. Hamka menyebut Rahmah ikut memajukan kaum perempuan dan mementahkan anggapan bahwa Islam tidak menyokong pemberdayaan perempuan. Kiprah Rahmah juga diakui hingga ke Timur Tengah sana. Dalam sejarah Universitas Al Azhar, baru Rahmah seoranglah ulama perempuan yang diberi gelar Syeikhah.

Dalam sejumlah esainya, Azyumardi Azra mengatakan perkembangan Islam modern dan pergerakan Muslimah di Tanah Air tidak bisa dilepaskan dari nama Rahmah sebagai perintis.

Sejak kecil Rahmah memang dikenal keras hati dan berpikiran maju. Jika ada yang tidak disukainya, dengan berani ia mengatakan tidak. Ketika merintis sekolah ini di awal usia 20-an, Rahmah tidak segan-segan berjualan kue untuk menambah biaya pendirian sekolah. Seraya membangun sekolah, ia terus bergerak menentang kolonial Belanda di Sumatera Barat. Tidak heran jika petinggi Belanda di Padang Panjang dan Bukittinggi sangat membenci Rahmah. Ia bahkan pernah dijadikan tahanan rumah oleh komandan tentara Belanda karena aktif menggerakkan para pemuda Sumatera Barat.

Ketika konfrontasi dengan Malaysia, murid-murid Rahmah yang bersuamikan para pejabat Malaysia ikut berperan mendinginkan panasnya api konfrontasi. Ketika Gubernur pertama Sumatera Barat, Harun Zein, berkunjung ke Malaysia dalam rangkaian diplomasi perdananya, nama Rahmah disebut-sebut dalam berbagai pertemuan.

Karena terpesona oleh pola pendidikan yang diterapkan Rahmah pula, Rektor al-Azhar Syekh Abdurrahman Taj, yang berkunjung ke Diniyyah Putri pada 1961, kemudian terinspirasi untuk membangun Fakultas Khusus Perempuan di Mesir.

Sikap keras Rahmah itu bertahan hingga masa tuanya. Ia tidak pernah mau berkompromi dengan pemerintah pusat, jika itu dinilainya menzalimi masyarakat daerah. Sebagaimana ulama-ulama teguh pendirian lainnya di masa perjuangan, Rahmah memilih berseberangan dengan pemerintah.

[Angela. Ruang Baca Tempo. 27 April 2009]
Read More...

Mia Bustam, Subadra dari Desa Limo

Jejaknya sebagai pelaku sejarah hampir tak terlacak dalam buku-buku yang mengupas tentang gonjang-ganjing pergolakan revolusi di negara ini. Di masa itu, ia lebih dikenal sebagai mantan istri Sindudarsono Sudjojono, bapak seni lukis modern Indonesia dan tokoh Partai Komunis Indonesia.

Sasmiya Sasmojo, begitu nama perempuan itu, berada dalam bayang-bayang nama besar suaminya. Hingga saat itu pun tiba: Sasmiya memutuskan bercerai dengan Sudjojono, cinta pertamanya.

Baginya, Sudjojono yang awalnya penuh idealisme, jujur, dan berani membela kebenaran sekalipun harus melarat, telah berubah jauh menjadi seperti hidup dalam menara gading, hanya berkutat di sekitar kehidupannya sendiri. (Sudjojono dan Aku, halaman 396).

Perceraian itu seperti kelahiran baru bagi Sasmiya. Perempuan ningrat Jawa itu menemukan kembali jati dirinya. Sebagai tonggak pembatas antara masa lalu dan kehidupan barunya, ia mengganti namanya menjadi Mia Bustam. "Aku ini pengagum Subadra yang tegas, mudah marah, tapi jujur," kata Mia mengidentifikasikan dirinya dengan istri pertama Arjuna dalam tokoh pewayangan. "Aku tak bisa jadi Sembrada (istri Arjuna lainnya) yang toleran pada Arjuna yang punya istri berlusin-lusin."

Tanpa dendam atas pengkhianatan suaminya, Mia menapaki hidup sebagai orang tua tunggal untuk delapan anak hasil perkawinan mereka. Hidup merdeka membawa Mia semakin produktif. Ia aktif di sejumlah kegiatan budaya dan seni yang dulu digeluti bersama Sudjojono di lembaga Seniman Indonesia Muda Yogyakarta. Ia juga menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Yogyakarta.

Namun, bergabung dengan Lekra sebenarnya bukan kesengajaan. Waktu itu Njoto, tokoh Partai Komunis Indonesia, mengundang Mia sebagai peninjau pada konferensi yang diadakan Lekra. Ketika acara sudah berakhir, Njoto menemuinya dan memberitahukan bahwa namanya telah dimasukkan sebagai anggota Lekra. Mia tak menolaknya.

Keterlibatannya di Lekra kemudian membawanya mendekam di penjara selama 13 tahun. Diawali menjadi tahanan politik G30S di Penjara Sleman, Yogyakarta, dan berakhir di penjara Wanita Bulu, Semarang. Ia bebas pada 26 Juli 1978. Hingga saat ini, Mia tidak pernah tahu alasan penangkapan dan penahanannya selama 13 tahun.

Setelah bebas dari penjara, watak keras, tegas, dan mandiri Mia tetap seteguh karang di laut. Meski dilandasi rasa sayang dari anak-anaknya, ia berkukuh menolak pindah ke Jakarta mengikuti anak-anaknya. Ia beralasan ingin dekat dengan makam leluhurnya dan tak mau menyusahkan anak-anaknya. Namun, kemudian hatinya melunak dan menjual rumahnya yang asri di Semarang dan membeli tanah seluas 150 meter persegi di jalan Swadaya, Desa Limo, Cinere, Depok.

Perempuan kelahiran Purwodadi, 4 Juni 1920 ini mendesain sendiri rumahnya. Taman bunga yang ditatanya memeluk hangat rumah itu. Penataan tanaman menunjukkan kepiawaian Mia. "Ibu memang jagonya menata taman," kata Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia.

Sampai sekarang, Mia tinggal sendiri di rumah itu. Ia mencuci bajunya sendiri, kecuali yang menurutnya berbahan berat, menata perpustakaan kecilnya, membersihkan taman, dan menyediakan makanan dan minumannya. Nasti, yang rumahnya tak jauh dari situ, memantau ibunya tiap hari.

Di rumah inilah Mia merawat ingatan untuk melawan lupa. Ingatannya mengagumkan. Ia mampu mengingat detail-detail cerita hidupnya. Bahkan, tulisanya di puluhan lembar kertas folio teratur rapi. Sulit dipercaya bahwa itu tulisan tangan seorang sepuh, perempuan yang sudah berusia 89 tahun. "Saya belum tremor," tutur Mia sambil mengenggam pulpennya. "Tapi, kalau pegang sendok makan gemetaran juga, ya," kata dia seraya tersenyum.

Ia sudah memiliki jadwal rutin. Setiap pagi setelah sarapan, ia membaca buku, lalu membersihkan taman, dan menulis menjelang siang hingga menuju waktu tidur siang. Sore dia kembali membaca buku dan malam hari melanjutkan menulis atau membaca sampai jam tidur malam, pukul 9.00 WIB.

Tekadnya, ia ingin menyelesaikan buku ketiganya tentang catatan pengalamannya sebagai tahanan politik. Ia masih menunggu orang yang mau menerbitkan hasil tulisannya itu. Sedangkan dua buku sebelumnya, Sudjojono dan Aku dan Dari Kamp ke Kamp, telah terbit pada 2006 dan 2008.

Pada buku Sudjojono dan Aku, Mia bercerita tentang dirinya bersama mantan suaminya itu dan situasi politik yang memanas di masa itu. Awalnya, Mia bermaksud menulis kisahnya ini sebagai kenang-kenangan bagi anak-anak dan cucu-cucunya untuk memperingati ulang tahunnya ke-72. Namun, atas desakan anak-anaknya, buku itu kini justru jadi referensi tentang perjalanan kehidupan sang tokoh seni rupa itu dari sudut pandang mata istrinya yang seorang aktivis Lekra.

Di buku keduanya, Mia menulis tentang pengalamannya selama berpindah-pindah dari satu penjara ke penjara selama 13 tahun. Mia bertutur secara lugas, detail, tanpa emosi meledak-meledak, dan diwarnai humor lepas di kedua bukunya.

Selain itu, Mia juga menerbitkan buku-buku hasil terjemahan dari bahasa Belanda dan Inggris. Ia berharap bisa menyelesaikan semua buku itu secepatnya. "Saya masih ingin hidup lebih tua lagi. Pekerjaan masih banyak belum selesai," kata dia.

[Maria Hasugian. Ruang Baca Tempo. 27 April 2009]
Read More...

Kembalinya Aldous Huxley

Brave New World kembali diperbincangkan. Karya-karya lain Aldous Huxley diterbitkan kembali.

Di atas tempat tidurnya, dan tidak lagi mampu berbicara, 1963, Aldous Leonard Huxley menuliskan permintaan terakhir kepada istrinya, Laura Archera: “LSD, 100 µg, intramuscular.” Setahun sebelumnya, Island—yang ia tulis di tengah-tengah kesehatannya yang memburuk sebab ia menderita kanker—terbit. Novel utopian ini cermin negatif dari novel dystopian karyanya, Brave New World.

Masih ingat Brave New World? Karya mashur Aldous Huxley ini, seperti dikabarkan oleh Los Angeles Times, sedang dibuat filmnya, disutradarai Ridley Scott dan diproduseri oleh George DiCaprio, serta dibintangi oleh putra George, Leonardo. Edisi baru buku-buku karya Aldous Huxley sedang dikerjakan, dan minat serius terhadap tulisannya tengah menanjak, khususnya di Eropa Timur. Membaca kembali karya-karya Aldous mungkin bernilai, bukan untuk apa yang ia lakukan di masa lalu, tapi untuk kita di masa depan.

Huxley menggabungkan banyak ketegangan dari panggung intelektual kontemporer, khususnya sains dan agama. Di sisi keilmuan, Aldous Huxley adalah cucu Thomas Henry Huxley, pembela Charles Darwin dan orang yang ‘menemukan’ kata ‘agnotisme’ (1869). Sebagai ilmuwan yang pemikirannya melampaui bidang biologi, Thomas Huxley meletakkan fondasi kultural bagi pandangan-dunia keilmuan Barat pada masa sekarang.

Julian Huxley, kakak Aldous, seorang biolog-evolusioner terkenal yang melihat aspek mental dan material dari realitas sebagai dua sisi dari koin kosmis yang sama. Aldous sampai pada posisi yang hampir identik, yang ditarik bukan dari sains melainkan dari mistisisme komparatif, dan digambarkan dalam karyanya yang masih populer, The Perennial Philosophy (1945). Inspirasi utama Aldous agaknya Advaita Vedanta, filosof India klasik yang mempengaruhi pemikiran dan praktek Hindu pada abad ke-19 dan selanjutnya memengaruhi penerimaan kaum intelektual dan seniman Amerika abad ke-20 terhadap Hinduisme.

Aldous berkenalan dengan gagasan Vedanta saat bergabung dengan Vedanta Society, ketika ia tinggal di Amerika. Namun Aldous bersikap curiga pada guru dan segala macam dewa, dan akhirnya ia meleburkan diri ke arus-dalam doktrin dan praktek yang dia temukan di antara “agama-agama Asia”, yang ia nyatakan dalam Island (novel terakhirnya, terbit 1962, setahun menjelang kematiannya): “Kebijakan sadar yang baru…yang sekilas terlihat secara profetis dalam Zen dan Taoisme dan Tantra.”

Pandangan-dunia itu—yang dihubungkan oleh Aldous dengan pemujaan fertilitas purba, studi seksualitas di Barat modern, dan biologi Darwin—muncul dari penolakan atas semua dualisme tradisional; yakni, menolak sistem agama atau moral yang memisahkan yang duniawi dan yang ilahi, materi dan pikiran, seks dan spirit, kemurnian dan polusi. Kebijakan baru Huxley terfokus pada partikularitas pengalaman momen-ke-momen sebagai tempat “kebahagiaan yang bercahaya”.

Neuroscience merupakan bagian kunci dari visi itu. Di masa-masa akhir kehidupannya, Aldous masuk semakin dalam kepada Buddhisme Tantra dan neurophysiology. Secara konsisten ia berpendapat bahwa kesadaran disaring dan ditranlasikan oleh otak melalui proses neurofisiologis, linguistik, psikologis, dan kultural yang kompleks. Inilah yang disebut “tesis filter”.

Aldous Huxley sangat tertarik pada riset fisik (J.B. Rhine, pendiri laboratorium parapsikologi di Duke University, adalah kawan baiknya), dalam magnetisme hewan (kadang-kadang ia mempraktekkan di rumah), beragam praktek terapi alternatif, dan yang mungkin paling mashur, potensi spiritual dari tanaman dan obat-obatan yang mempengaruhi pikiran. Korespondensinya dengan kawannya yang psikiater, Humprey Osmond, menghasilkan neologisme dalam bahasa Inggris “psychedelic”—ketenangan jiwa karena terpengaruh oleh obat bius. Ia memang menikmati LSD dan dianggap pioner dalam penggunaan obat bius “untuk mendapatkan pencerahan”. Dan hasilnya adalah literatur awal mengenai potensi mind-manifesting dalam tanaman dan bahan kimia psikotropis, The Doors of Perception (1954).
Aldous sedemikian yakin pada potensi substansi psychedelic, sehingga di saat-saat terakhir kehidupannya, ia meminta agar disuntikkan 100 mikrogram LSD ke dalam pembuluh darahnya. Dalam biografi Aldous, This Timeless Moment (1975), Laura Archera menyebutkan, Aldous menuliskan pesan itu: “LSD, 100 µg, intramuscular.”

Visi Aldous itu belum tertuang pada 1932, ketika ia menerbitkan apa yang kemudian terkenal, Brave New World. Kisahnya seputar peradaban masa depan yang menghasilkan kebahagiaan melalui rezim bioteknologi tinggi di mana manusia direkayasa secara genetik dalam tabung uji, lalu disosialisasikan ke dalam sistem kasta yang kaku. Rezim ini menghapus keluarga inti, menegakkan seksualitas bebas yang dilepaskan dari prokreasi, dan pasokan “tablet soma” dari pemerintah—nama soma diambil dari makanan persembahan peramal Vedic pada zaman India kuno—yang mengantarkan kebahagiaan dalam kekosongan-pikiran. Keibuan merupakan hal terlarang di brave new world ini, dan individualitas sangat dianjurkan. Novel ini menggambarkan monokultur yang superfisial dengan stratifikasi sosial, penekanan sistematis atas individualisme, dan pasokan obat-obatan yang tak terbatas.

Brave New World adalah cermin-berlawanan dari dunia yang dikisahkan Aldous 30 tahun kemudian dalam Island. Novel ini merupakan jawaban utopian Huxley atas warisannya sendiri yang dystopian, dan berkisah seputar jurnalis Barat, Will Farnaby, yang kapalnya karam di pulau Pala. Didirikan oleh Buddhis Tantra India (Raja Tua) dan dokter Skotlandia yang menjadi sahabatnya, budaya Palanian adalah sintesis Timur dan Barat yang menjawab monokultur otoritarian dalam Brave New World. Setelah berjarak puluhan tahun, barangkali kita dapat menimbang bahwa Island dan Brave selayaknya dibaca bersama. Nicholas Murray, dalam An English Intellectual (2003) mengatakan bahwa Aldous telah memikirkan bertahun-tahun tentang bagaimana menghasilkan “Utopia yang bagus” untuk mengimbangi gambaran Brave New World.

Dalam biografi Aldous yang terbit pada 2002, Dana Sawyer menyebutkan karya Aldous dapat dibaca sebagai upaya sepanjang-hayat untuk menjawab panggilan kakeknya pada agnostisme. “Saya masih seorang agnostik,” tulis Aldous, “yang bercita-cita menjadi gnostik—namun gnostik pada tingkat mistis, gnostik tanpa simbol, kosmologi, atau pantheon (kuil bagi semua dewa).”

Aldous penulis yang komplet. Ia menulis novel, esai, cerita pendek, puisi, perjalanan, dan skenario film. Ia menyelesaikan novel pertamanya (tidak diterbitkan) pada usia 17 dan mulai menulis secara serius pada awal 1920-an. Aldous mula-mula belajar di laboratorium botani milik ayahnya, lalu belajar di sekolah yang diawasi ibunya. Ibu Aldous meninggal (1908) ketika Aldous berusia 14 tahun. Tiga tahun kemudian, Aldous menderita sakit yang menyebabkan ia buta selama dua-tiga tahun (Dalam penutup Brave New World, Aldous dikutip: “Kebutaan sementaraku juga menjagaku dari menjadi seorang dokter, dan aku bersyukur tentang hal ini.”) Ketika pandangan matanya cukup pulih, ia belajar sastra Inggris di Balliol College, Oxford. Aldous lalu mengajar di sekolah menengah Eton; di sini Eric Blair (belakangan dikenal dengan nama pena George Orwell) menjadi muridnya (Saat menerima hadiah buku 1984, Aldous merasa senang dan memujinya sebagai buku penting, tapi meragukan apakah penguasa otoriter di masa depan akan mengadopsi represi brutal seperti yang digambarkan oleh Orwell dalam novelnya itu).

Selama Perang Dunia I, Aldous banyak tinggal di Garsington Manor, di rumah Lady Ottoline Morrell, dan bekerja sebagai buruh pertanian. Di sini ia bertemu dengan sejumlah figur Bloomsbury seperti D.H. Lawrence, Bertrand Russell, dan Clive Bell. Belakangan, dalam Crome Yellow (1921) Aldous mengkarikaturkan gaya hidup masyarakat Garsington. Pada 1919 ia menikahi Maria Nys, wanita Belgia yang ia jumpai di Garsington (Maria meninggal pada 1955 karena mengidap kanker payudara). Mereka memiliki seorang anak, Matthew Huxley, yang berkarier sebagai epidemiologis. Keluarga ini tinggal di Italia pada 1920-an; di sini Aldous Huxley bertemu kawannya, D.H. Lawrence.

Aldous tinggal di Los Angeles sejak 1937 dan berusaha memasuki Hollywood. Kawannya, Anila Loos, novelis dan penulis skrip film, memperkenalkan Huxley kepada perusahaan MGM yang kemudian menyewanya untuk menulis Madame Curie. Semula, film ini hendak disutradarai oleh George Cukor dengan bintang Greta Garbo. Namun, akhirnya film ini baru dibuat pada 1943 dengan sutradara dan pemain yang berbeda. Aldous juga menulis kembali Pride and Prejudice (1940) dan Jane Eyre (1944).

Tapi di Hollywood ia tidak sukses. Ketika menulis sinopsis Alice in Wonderland, Walt Disney menolaknya dengan alasan “ia hanya mengerti setiap kata ketiga.” Aldous, agaknya, tidak cocok dengan habitat film. Lantaran itulah, pada 1940, Aldous pindah dari Hollywood ke kawasan pertanian seluas 160 ribu meter persegi di Llano, California.

Tempat-tempat persinggahan hidup Aldous nyaris selalu menjadi latar belakang cerita-ceritanya. Pengalamannya bekerja di pabrik kimia Brunner and Mond di Billingham, Teeside, 1920, menjadi sumber ilham bagi Brave New World. Aldous menjadi kawan dekat Remsen Bird, Presiden Occidental College. Ia lama berada di sekolah ini, yang kemudian muncul sebagai Tarzana College dalam novel satirisnya After Many a Summer Dies the Swan (1939). Novel ini meraih James Tait Black Memorial Prize untuk fiksi.

Di kawasan pertanian itu, Aldous menjalani perawatan mata dengan Bates Method di bawah bimbingan Margaret Corbett. Aldous mengaku, penglihatannya membaik. Untuk pertama kali dalam waktu lebih dari 25 tahun, ia mampu membaca tanpa bantuan kacamata. Bahkan, ia mencoba mengendarai mobil. Keberhasilannya dalam melihat ia rayakan dengan menulis The Art of Seeing yang diterbitkan di Amerika (1942) dan Inggris (1943). Menurut Laura, dalam biografi Huxley, This Timeless Moment, “Memperoleh kembali penglihatannya merupakan salah satu pencapaian besar dalam kehidupan Aldous.”

Laura menggambarkan pekan terakhir—dari 15 hingga 22 November 1963—sebagai “periode aktivitas mental yang intens bagi Aldous”. Hingga hari terakhirnya, ia “belum mengakui secara sadar fakta bahwa ia mungkin segera akan meninggal”.

Begitulah, setelah pencapaiannya, pada 22 November 1963 pukul 11.45 Laura menyuntikkan LSD ke dalam pembuluh darah Aldous. Sore harinya, penulis ini menemui ajal di usia 69 tahun. Liputan media atas kematiannya dibayang-bayangi oleh pembunuhan Presiden John Kennedy pada hari yang sama serta kematian penulis Inggris C.S. Lewis, pencipta Narnia. Koinsidensi ini mengilhami Peter Kreeft untuk menulis buku Between Heaven and Hell: A Dialog Somewhere Beyond Death with John F. Kennedy, C.S. Lewis, & Aldous Huxley (Kreeft 1982).

Abu Huxley ditaburkan di pemakaman keluarga di Compton Village Cemetary, Guildford, Surrey, Inggris. “Born into the rain,” kata Aldous kepada New York Herald Tribune pada 1952 (seperti dikutip sebagai pembuka biografi Aldous Huxley, An English Intellectual), “I have always felt a powerful craving for light.”

[Dian R. Basuki. Ruang Baca Tempo. 31 Maret 2009]
Read More...

Kisah Eropa Mencuri Bola

Di Eropa, para raja membredel sepakbola karena brutal. Ratusan orang tewas dalam satu kali pertandingan.

Cao Yang gemas meski itu hari bersejarah bagi Cina. Tanggal 20 Mei 2004 Asosiasi sepak bola Internasional (FIFA) dalam perayaan ulangtahunnya yang ke-100 secara resmi mengakui bahwa sepak bola berasal dari negeri Tirai Bambu. Tapi Direktur Pengembangan sepak bola Provinsi Zibo itu masih kesal. “Seandainya peraturan sepak bola tak diubah, kami sudah jadi nomor satu di dunia,” katanya.

Cina adalah tanah air sepak bola, selain ilmu pengetahuan, budaya dan kearifan agama. Karena itu, tak heran, jika Rasulullah Muhammad perlu menganjurkan umatnya belajar ke negeri ini.

Di Cina sepak bola sudah dimainkan orang sejak 7.000 tahun yang lalu—sebuah masa yang panjang dari sebuah klaim yang salah. Selama ini orang menganggap sepak bola lahir di Inggris pada abad 19. Para penulis sejarah sepak bola juga seolah keberatan mengakui Cina sebagai negeri yang melahirkan sepak bola. Inggris, dan Eropa pada umumnya, sesungguhnya hanya mengembangkan olahraga ini dari apa yang sudah ditemukan oleh orang-orang Asia Tengah.

Petualang Italia, Marco Polo (1254-1324), mengenalkan sepak bola modern dari Cina dan Jepang sewaktu kembali ke Eropa. Tapi para peneliti masih berdebat apakah petualang itu satu-satunya orang yang berjasa membawa sepak bola ke sana. Sebagian meragukan, sebagian lagi yakin Eropa telah “mencuri” permainan ini dari Asia kuno lewat Marco Polo.

Catatan tertua tentang sepak bola ditemukan di Cina dari masa Dinasti Tsin (255-206 sebelum Masehi). Manuskrip itu mencurigai, permainan ini diperoleh secara turun-termurun sejak 5.000 tahun sebelumnya. Pada zaman Tsin, permainan yang dinamai tsu chu ini awalnya dipakai untuk melatih fisik para prajurit kerajaan. Kemudian berkembang menjadi permainan yang menyenangkan kendati sulit dilakukan. Pemainnya tak hanya anggota kerajaan tapi juga rakyat di seluruh Cina.

Satu tim terdiri dari enam orang yang berlomba memasukkan bola dari kulit binatang yang diisi rambut ke lubang jaring berdiameter 40 sentimeter. Jaring setinggi 10,5 meter ditancapkan di tengah lapangan yang dikelilingi tembok, mirip lapangan bolavoli di zaman sekarang. Dengan tsu chu orang Cina memahirkan kung fu. Aturan tsu chu sangat sederhana: bola tak boleh disentuh tangan dan tim yang menang adalah mereka yang paling banyak memasukkan bola ke dalam lubang jaring.

Tsu chu yang berarti “menendang bola” lahir dari kepercayaan Cina kuno. Menurut penulis Li You (55-135), bola itu melambangkan bulan yang amat sakral dan dua tim yang berlawanan melambangkan yin dan yang. Angka 12 diambil dari jumlah bulan dalam penanggalan Cina. Permainan ini sudah mengenal wasit. Dia memimpin pertandingan dan menghitung skor.

Legenda menyebutkan anggota kerajaan sangat menggemari permainan ini. Raja-raja sengaja membangun lapangan untuk bermain tsu chu dan mewajibkan sekolah mengajarkan olahraga ini. Karena itu tsu chu cepat populer ke seantero negeri. Pada masa Dinasti Han (206 sebelum Masehi hingga 200 setelah Masehi) ketenaran tsu chu mencapai puncaknya. Dokumen dari tahun 50 sebelum Masehi melaporkan ada pertandingan antara tim Cina dan Jepang di Kyoto. Tak disebutkan berapa skor akhirnya.

Orang Jepang memainkan olahraga ini setelah padagang dan siswa mereka menyambangi Cina. Selain diperkenalkan oleh orang Cina sendiri ketika mendatangi negeri-negeri sekitarnya. Dinasti Cina terkenal sebagai bangsa penjelajah. Orang Jepang mengadopsi tsu chu dengan lebih kreatif. Mereka menamainya kemari.

Pemainnya dua sampai 12 orang. Gawangnya berupa dua pohon yang berdiri sejajar. Olahraga ini sangat riuh karena para pemain saling berteriak jika sedang mengendalikan atau akan menendang bola. Setiap pemain tidak dibolehkan menjegal atau melukai lawan.

Kemari mencapai puncak popularitas pada abad 10-16. Di tahun inilah, Marco Polo datang ke sana karena sudah mendengar tentang permainan ini. Peneliti yang meragukan Marco Polo sebagai pembawa sepak bola ke Eropa karena di daratan ini sudah ada permainan bola ratusan tahun sebelum Marco Polo lahir. Hanya saja permainan bola di hampir semua negara Eropa sebelum abad 18 mirip rugbi di zaman sekarang.

Di Yunani bermain bola sudah dikenal 800 tahun sebelum Masehi dengan nama episkyro dan harpastron. Pasukan Romawi yang menyerbu Yunani tahun 146 sebelum Masehi kemudian mengadopsi permainan ini dan menyebarkannya seiring penaklukan wilayah-wilayah Eropa. Kaisar Romawi Julius Caesar tercatat sebagai penggemar harpastrum. Ia memakai permainan ini sebagai olahraga melatih fisik pasukannya. Di Roma, luas lapangan harpastrum menyesuaikan dengan jumlah pemain. Suatu kali harpastrum pernah dimainkan oleh lebih dari 100 orang. Karena itu sepak bola lebih mirip kerusuhan massal.

Penulis Romawi, Horatius Flaccus dan Virgilius Maro menyebut Harpastrum sebagai permainan biadab. Olahraga ini kemudian dilarang di seluruh negeri. Dan sejarah sepak bola Eropa kemudian diwarnai oleh bredel-membredel.

Orang Inggris mulai mengenal sepak bola pada sekitar abad 8. Sama seperti di Romawi, permainan bola di Inggris jauh lebih brutal. Dimainkan di lapangan yang luas atau jalanan berjarak 3-4 kilometer. Raja Edward II menyebut sepak bola sebagai “permainan setan yang dibenci Tuhan.” Ia melarang rakyatnya melakukan olahraga ini pada April 1314, terutama untuk kalangan ningrat. sepak bola dianggap kampungan karena menggunakan tengkorak manusia sebagai bola.

Raja khawatir jika prajurit terlalu sering bermain bola mereka lupa latihan berkuda dan panahan untuk menghadapi pasukan musuh. Raja-raja Inggris berikutnya melanjutkan larangan itu hingga Ratu Elizabeth I (1533-1608).

Dalam buku The Anatomie of Abuses yang ditulis Philip Stubbes tahun 1583 kekerasan itu terekam sangat jelas. “Ratusan orang mati dalam satu pertandingan ini,” tulis Stubbes. Pemain yang selamat banyak yang cedera parah: kalau tak patah kaki, pasti remuk tulang punggung, atau kepala bocor, mata picek dan seterusnya. Stubbes, seorang puritan yang serius, mengkampanyekan larangan sepak bola hingga gereja-gereja turun tangan. Apalagi ketika itu permainan bola dilakukan saat hari minggu Sabath. Orang yang mencuri-curi bermain bola dan ketahuan dimasukkan penjara selama seminggu.

Di Prancis sepak bola juga dilarang. Orang Prancis yang mengenal bola dari tentara Romawi pada 50 sebelum Masehi, juga bermain tanpa aturan dan tanpa batasan jumlah pemain. Akibat larangan itu, sepak bola yang dinamakan soule ini baru kembali dimainkan orang pada abad 12. Tetapi dilarang kembali oleh Raja Felipe V di tahun 1319 yang diteruskan oleh rajaraja Prancis berikutnya.

Kekerasan sepak bola juga terjadi di Amerika Tengah. Suku Indian dan Astek juga sudah memainkan sepak bola ratusan tahun yang lalu. Hanya saja pada suku Astek permainan bola merupakan gabungan dari permainan basket, voli dan sepak bola sekaligus.

Di kalangan orang Indian, sepak bola lebih mirip perang antar suku yang digelar di lapangan maha luas dan berharihari jika skor masih imbang. Dengan pemain setiap tim berjumlah 500 orang, pasuckaukohowog menghasilkan korban yang cedera berbulan-bulan. Sebelum bertanding para pemain melakukan ritual seperti sebelum maju perang. Mereka mengecat tubuh dan wajah dengan gambar tertentu untuk menolak bala.

Sepak bola mulai modern dan tertib setelah Giovani Bardi dari Italia membukukan serentetan aturan permainan ini tahun 1580. Di Italia, sepak bola disebut calcio. Setahun berikutnya, Richard Mulcaster di Inggris juga melakukan hal serupa. Kepala Sekolah Merchant Taylor’s dan St. Paul itu menyerukan perlunya pembatasan pemain dan wasit. Paparannya dalam buku Position Where in Those Primitive Circumstanes be Examined itu lebih banyak menganjurkan pengurangan kekerasan dan mementingkan aspek kebugaran.

Dua ratus tahun kemudian Joseph Strutt menyempurnakan aturan tersebut. Belajar dari sejarah bola Inggris tahun 1700, ia menulis buku The Sports and Pastimes of The People England. Dalam buku ini ia membuat aturan bahwa sepak bola harus terdiri dari dua tim dengan jumlah pemain sama. Kedua tim harus berebut bola untuk memasukkannya ke gawang lawan yang terpisah oleh jarak 70-90 meter.

Baik Bardi, Mulcaster maupun Strutt, ketiganya menginginkan sepak bola melulu sebagai permainan. Mereka sebenarnya mengadopsi peraturanperaturan sederhana sepak bola yang sudah dipraktikkan di Jepang dan Cina puluhan abad sebelumnya. Dalam World Soccer (1992), Guy Oliver menulis bahwa peraturan dan permainan tsu chu maupun kemari merupakan sumber ilham sepak bola modern.

Mulcaster dijuluki sebagai “pembela sepak bola paling gigih dari abad 16”. Itu karena ia tekun mengkampanyekan sepak bola yang tidak brutal. Permainan ini, katanya, bahkan harus dimainkan oleh perempuan dan anak-anak karena berguna untuk kekuatan dan kebugaran tubuh. Padahal di Cina, menurut pelukis Dinasti Ming, Du Jin, para perempuan sudah bermain tsu chu antara tahun 1465-1509.

Konsep Strutt ini kemudian dijadikan pijakan peraturan sepak bola modern. Pijakan ini mendasari lahirnya Football Association di Inggris pada 26 Oktober 1863 oleh 11 klub sepak bola di sana yang anggotanya terdiri dari para mahasiwa. Awalnya, asosiasi mengatur jumlah pemain satu tim sebanyak 15-21 orang. Pada 1870 jumlah pemain dibakukan menjadi sebelas. Penjaga gawang baru muncul pada 1880.

Dari organisasi ini pulalah lahir istilah soccer, dari singkatan kata association. Charles Wreford Brown, mahasiswa Universitas Oxford, menemukan tak sengaja istilah ini ketika ditanya orang apakah ia seorang pemain rugbi (rugger), olahraga yang lebih terkenal di sana. Brown menjawab, “No, I’am soccer.”

Sedangkan football, meskipun pertama kali disebut dalam larangan- larangan para raja pada abad 17 dengan nama fute-ball, istilah ini semakin populer setelah ditulis dramawan Inggris yang terkenal, William Shakespeare. Dalam King Lear seorang tokohnya mencemooh tokoh lain yang dianggap dungu sebagai “football player”.

Shakespeare melanjutkannya ketika menulis Comedy and Errors (adegan II). Istilah ini masih dipakainya untuk mencemooh tokoh yang begerak tak tentu arah.

Tahun 1863 merupakan tonggak sejarah sepak bola modern. Selain ada wasit, luas lapangan dan jumlah pemain yang dibatasi, sepak bola juga hanya memakai kulit binatang yang diisi udara. Permainan ini kemudian menyebar ke negara jajahan Inggris dan berkembang pesat dan kompleks sebagai budaya massa dalam abad modern.

Orang Inggris keliru ketika pada Piala Eropa 1996 memasang spanduk besar-besar dengan bunyi: sepak bola kembali ke tanah leluhurnya. Orang Inggris mengacu pada kelahiran Asosiasi sepak bola (FA) yang baru berusia dua abad itu. Mereka keliru karena sepak bola adalah produk santun kebudayaan Timur.

Sebagai sebuah budaya massa, sepak bola telah menarik minat para ilmuwan dengan pelbagai latar belakang: sosial, ekonomi, politik, filsafat. Victor Matheson dari Departemen Ekonomi William College, Inggris, dalam penelitiannya di tahun 2003 menyimpulkan bahwa klub-klub profesional di Eropa dan Amerika Selatan menyumbang pertumbuhan ekonomi yang signifikan kepada negaranya. Setiap klub, dengan perputaran uang triliunan rupiah, setidaknya mempekerjakan 3.000 karyawan. Atau holiganisme di Inggris yang menarik minat para sosiolog dalam meneliti pendukung sebuah kesebelasan.

Para pemikir sudah lama menaruh minat pada olahraga ini. Albert Camus pernah bilang bahwa dirinya berutang kepada sepak bola karena olahraga ini mempertontonkan soal moral dan tanggungjawab. Di masa mudanya, Camus pernah jadi kiper, karena itu ia punya lebih banyak waktu merenungkan pertandingan. Claude Levi-Strauss, Sartre hingga Gramsci juga sudah menulis kajian filsafat sepak bola. Di Australia, pengelola klub menyeleksi pemain dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud.

Karena itu Cao Yang tetap gemas meski Cina sudah diakui sebagai tanah leluhur sepak bola. Ia gemas karena Eropa mampu mencuri permainan ini dan maju dengan itu.
Read More...

Gambaran Fabel Kelas Masyarakat Inggris

Ada begitu banyak kisah fabel. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia mungkin lebih mengenal si beruang kuning penyuka madu, Winnie the Pooh. Beruang yang memiliki ‘otak sangat sedikit’ ini menjalani hari-hari di A Hundred Acre Woods bersama teman-temannya, Piglet, Eeyore, Tigger, Rabbit, Owl, Kanga, Roo, dan seorang anak laki-laki kecil, Christopher Robin.

Fabel lain yang menyajikan petualangan dan hiruk-pikuk kehidupan para karakter binatang adalah The Wind in the Willows. Karya Kenneth Grahame yang terbit pertama kali pada 1908 ini tergolong karya klasik dalam sastra anak-anak. Karakter-karakter utama berpusat pada Mole (tikus tanah), Ratty (tikus air), dan Mr. Toad (katak).

Ada beberapa persamaan antara The Wind in the Willows dengan Winnie the Pooh karya A.A. Milne. The Wind in the Willows awalnya digunakan sebagai serial cerita sebelum tidur untuk anak tunggal Grahame, Alastair, dan ketika ia dikirim bersekolah, cerita berlanjut dalam bentuk surat. Milne menulis Winnie the Pooh dan teman-temannya di A Hundred Acre Woods untuk anaknya, Christopher Robin, yang menjadi satu-satunya tokoh manusia dalam cerita tersebut.

Karakter-karakter dalam kedua cerita adalah binatang, keduanya telah diadaptasi ke layar kaca maupun perak, dan mengilhami musisi (ingat lagu Return to Pooh Corner yang dinyanyikan Kenny Loggins?), dan sama-sama berasal dari Inggris. Untuk ilustrasi yang memperindah buku masingmasing, Grahame dan Milne sepakat memanfaatkan talenta seni E. H. Shepard.

Tempo bertutur Grahame dalam buku ini kadang bergerak lambat dan cepat bergantian, seperti sungai Thames yang menjadi latar belakang cerita. Ritme cerita berpacu lekas jika Mr. Toad—pemilik Toad Hall—yang arogan, kaya, gampang tertarik pada satu hal secepat ia bosan dan berpindah pada hal lain, muncul di antara Mole yang lembut dan Ratty yangs antai, ramah, mencintai sungai dan melindungi Mole di bawah sayapnya. Di samping ketiga karakter tersebut ada teman mereka, yakni Badger (berangberang) yang tinggal di Wild Wood, figur penyendiri yang baik hati dan ‘membenci masyarakat’.

Kegilaan Mr. Toad akan petualangan seringkali menjeratnya dalam kesulitan. Untungnya, ia mempunyai teman-teman yang sabar dan baik hati serta siap menolongnya. Mole yang awalnya kagum (bisa dikatakan cenderung kaget) pada kehidupan di tepi sungai bisa beradaptasi setelah terus-menerus menghadapi Mr. Toad yang impulsif dan cepat puas akan dirinya sendiri. Ia berpindah dari satu obsesi ke obsesi lain, seperti rumah perahu dan kereta kuda.

Petualangan terpanjang karena kegilaannya itu terjadi saat ia menemukan mobil. Sederet kecelakaan menggiringnya ke penjara atas tuduhan pencurian, cara mengemudinya yang membahayakan nyawa binatang lain, dan sikapnya yang tidak menghargai polisi daerah setempat. Beberapa bab paling seru dalam buku ini merupakan rangkaian pelariannya. Untunglah Mr. Toad mempunyai teman-teman setia yang mengubahnya dan memenangkan kembali Toad Hall, yang telah dikuasai oleh para musang saat ia tidak ada.

Personifikasi karakter-karakter dalam The Wind in the Willows mewakili beragam kehidupan kelas dalam masyarakat Inggris. The Wind in the Willows seringkali dibandingkan dengan Animal Farm karya George Orwell karena di satu sisi merupakan komentar mengenai dinamika kelas dalam kehidupan negara asal grup musik The Beatles ini. Secara kasar ‘River Bankers’ (penghuni tepi sungai) merepresentasi kelas atas, sementara ‘Wild Wooders’ (penghuni hutan) merepresentasi kelas bawah.

Walau pada awalnya terbit tanpa ilustrasi, bertahun-tahun kemudian banyak versi dengan ilustrasi muncul. Mungkin karya E. H. Shepard, diterbitkan pada 1931, adalah yang paling populer. Grahame memang tidak hidup cukup lama untuk melihat hasil akhirnya. Namun, versi ini dipercaya sebagai karya yang ditandatangani Grahame karena ia senang dengan sketsa Shepard.

The Wind in the Willows banyak mengilhami lahirnya berbagai versi, bahkan sekuel dirinya. Edisi The Folio Society terbit tahun 2006 menyajikan fitur 85 ilustrasi, 35 di antaranya berwarna, oleh Charles van Sandwyk. William Horwood menciptakan sekuel The Wind in the Willows: The Willows in Winter, Toad Triumphant, The Willows and Beyond, The Willows at Christmas. Wild Wood oleh Jan Needle, terbit tahun 1981, dengan ilustrasi oleh William Rushton.

Buku ini merupakan penuturan kembali cerita The Wind in the Willows dari sudut pandang penghuni kelas pekerja Wild Wood. Mereka mengalami keterbatasan uang. Pekerjaan pun sulit diperoleh. Perspektif mereka sangat berbeda atas gaya hidup mudah Toad dan temantemannya yang kaya dan tidak pedulian. Beberapa insiden terkecil dari cerita aslinya diperjelas dalam buku ini—narator Wild Wood kehilangan pekerjaan yang sangat dibutuhkannya sebagai sopir Toad ketika Badger, Mole, dan Rat memutuskan untuk menghentikan kegilaan Toad menyetir. Klimaks buku ini datang saat Toad masuk penjara: para musang mengambil alih Toad Hall dan mengubahnya menjadi perkumpulan sosialis bernama Brotherhood Hall.

Beberapa film dan versi televisi The Wind in the Willows termasuk versi animasi Walt Disney tahun 1949, The Adventures of Ichabod and Mr. Toad. Tahun 1983 muncul animasi menggunakan boneka stop-motion, bukan gambar, oleh Cosgrove Hall, diikuti oleh serial televisi dan dibuat dengan gaya yang sama—versi ini dikatakan sebagai adaptasi yang paling setia. Lalu muncul animasi pada 1996 dengan bintang utama Michael Palin dan Alan Bennett sebagai Ratty dan Mole; mengikuti adaptasi The Willows in Winter. Di tahun yang sama muncul versi live-action yang ditulis dan disutradarai oleh Terry Jones.

Panggung teater tidak mau ketinggalan dalam mengadaptasi fabel ini. Milne memproduksi Toad of Toad Hall pada 1929. Alan Bennett, sebelum berperan sebagai Mole dalam film (1996) telah menulis adaptasi panggung The Wind in the Willows dan berperan sebagai karakter yang sama pada 1991. Mr. Toad’s Mad Adventures dihasilkan oleh Vera Morris. Tak ketinggalan untuk radio, Kenneth Williams membuat sebuah versi dari buku tersebut.

Para musisi pun terkena imbas lekatnya pengaruh buku anak-anak ini. The Piper at the Gates of Dawn, tajuk album pertama Pink Floyd dicomot dari judul bab 7 dalam buku The Wind in the Willows. Walau demikian, lagu-lagu dalam album tersebut, yang sebagian besar ditulis oleh Syd Barrett, tidak berhubungan langsung dengan isi buku. Album The Healing Game karya penyanyi-penulis lagu Van Morrison di tahun 1997 memuat lagu Piper at the Gates of Dawn. The Wind in the Willows juga merupakan judul lagu yang ditulis Alan Bell dan dinyanyikan oleh banyak artis, termasuk Blackmore’s Night.

Kenneth Grahame (1859-1932) lahir di Edinburgh dan menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Berkshire, di mana ia dikirim pergi ke luar rumah saat berusia lima tahun setelah kematian ibunya. Ayah Grahame, yang tidak mampu mengurus keempat anaknya, menyerahkan mereka dalam pengawasan sang nenek. Walaupun diperlakukan dengan baik, anak-anak Grahame saling bergantung dalam penghiburan dan dukungan emosional. Kenangan masa kecil dan jam-jam yang dihabiskan di sisi atas sungai Thames itulah yang mengisi Grahame dengan materi untuk The Golden Age, Dream Days dan kemudian karyanya yang paling dikenal, The Wind in the Willows.

Grahame dikirim ke St. Edward’s School pada usia sembilan tahun, yang menggiringnya lebih dekat pada hari-hari sederhana dan menyenangkan di tepi sungai. Rencananya untuk belajar di Oxford University terhempas karena kekurangan dana. Keluarganya pun berkeras menyuruh ia bekerja di Bank of England. Pada tahuntahun kerjanya di bank Grahame mulai menulis esai dan cerita. Ia sering menulis di The Yellow Book, media periodik yang mengkhususkan diri pada sastra dan seni, dan pada St. James’s Gazette.

Ia bertemu Dr Frederick Furnivall pada 1886 yang mengenalkannya pada penulis-penulis lain: Tennyson, Browning, Ruskin, dan William Morris. Furnivall jugalah yang menyemangatinya dalam menulis. Pada 1893 Grahame menerbitkan koleksi esai berjudul Pagan Papers yang diterima dengan sangat baik. The Golden Age (1895) dan Dream Days (1898) memantapkan reputasinya lebih jauh dan membuatnya diingat lantaran pengertian yang luar biasa tentang pikiran anak-anak.

Pada 1898 ia menikahi Elspeth Thomson, yang melahirkan anak tunggal mereka, Alastair, pada tahun berikutnya. Setelah The Wind in the Willows terbit pada 1908, kesehatan Grahame memburuk dan memaksanya untuk mengundurkan diri dari pekerjaan perbankannya. The Wind in the Willows memberikan keuntungan besar untuk Grahame, sehingga ia bisa berhenti dari pekerjaannya di bank (yang ia benci walaupun tergolong pekerjaan terhormat dan berpenghasilan besar). Ia lalu pindah ke daerah pedesaan, seperti yang dilakukan tokoh-tokoh dalam ceritanya.

Grahame terus menulis artikel dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat. Setelah kematian tragis putranya, saat menjadi mahasiswa di Oxford University, Grahame mengucilkan diri di rumahnya dekat sungai Thames. Di rumah itu ia hidup hampir sebagai seorang pertapa hingga kematiannya, 1932.

Grahame melabuhkan karakterisasi para binatang yang sederhana dan riil dengan latar sisi sungai yang bersahaja tanpa menghilangkan kesenangan yang dihasilkannya. The Wind in the Willows merupakan ramuan petualangan dan moralitas yang sangat disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa, dan tidak diragukan akan terus disukai oleh generasi mendatang. Bukankah selalu ada anak yang haus akan kisah dan petualangan dalam dirinya, iya kan?

[Olivia Kristina Sinaga. Ruang Baca Tempo. 25 Juni 2006]
Read More...

Pentas Untuk Raja Drama Kelam

Peringatan besar-besaran 100 tahun kematian dramawan Henrik Ibsen.

Sigmund Freud baru belajar membaca tatkala Henrik Ibsen mengguncang dunia sastra dengan kisah kelam tokoh-tokohnya (kemudian dikenal dengan istilah drama psikoanalisis). Seratus tahun setelah kematiannya, pada 23 Mei silam, dunia menggelar setidaknya 8.000 perhelatan. Di kampung halamannya, tahun ini menjadi The Year of Ibsen, lengkap dengan sejumlah pertunjukan drama, yang juga diramaikan oleh seniman rap.

“Tahun ini Ibsen akan dimainkan melebihi Shakespeare,” kata Bentein Baardson, sutradara drama dan ketua penyelenggara perayaan Ibsen 2006 di Oslo, Norwegia.

Menurut Baardson, demikian besar penghargaan dunia terhadap Ibsen sehingga program yang digelar jumlahnya membengkak dari rencana semula. Di Mesir, misalnya, para seniman teater menggelar drama karya Ibsen di depan patung Sphinx. Pertunjukan drama karya Ibsen juga berlangsung nun di Bangladesh sana. Yang unik, di Cina, drama karya Ibsen dimainkan oleh robot dan penyanyi opera. Tahun ini, Norwegia juga mengeluarkan seri terbaru buku kumpulan naskah drama terkenal Ibsen.

“Ibsen adalah reformis masyarakat,” kata Baardson.

Henrik Johan Ibsen besar di tengah keluarga kaya-raya di sebuah rumah yang disebut Stockmanngarden. Ayahnya, Knud Ibsen, seorang saudagar kaya dan memiliki perusahaan pelayaran besar. Celakanya, perusahaan ayahnya bangkrut dan kehidupan keluarga Ibsen berubah menjadi sangat miskin. Saat itu Ibsen baru berusia 7 tahun. Perubahan hidup dan lingkungan pergaulan—termasuk kemunafikan kawan-kawan keluarga yang menjauh setelah itu—menjadi inspirasi karya Ibsen.

Hampir 80 tahun masa hidupnya, popularitas dan produktivitas Ibsen mungkin hanya bisa ditandingi oleh Shakespeare.

Pengaruh Ibsen amat terasa pada sejumlah seniman lokal, termasuk Edvard Munch, pelukis kenamaan Norwegia. Bahkan, dalam banyak esai mengenai Freud dan teori psikoanalisis, Bapak Psikoanalisis itu disebut-sebut sengaja mempelajari bahasa Norwegia hanya agar dapat mempelajari cara berpikir Ibsen! Pengaruh Ibsen juga dapat dirasakan pada banyak karya George Bernard Shaw—yang sarat muatan satir dan kepahitan—dan James Joyce. Pada publikasi pertamanya yang dimuat pada 1 April 1900 di Fortnightly Review, Joyce mencuplik kalimat Ibsen: “Seorang perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri di tengah masyarakat seperti saat ini. Masyarakat yang tumbuh secara eksklusif menjadi sangat maskulin, dengan hukum yang dipateri oleh pria dan sistem peradilan—yang sangat lembut—yang diatur lewat sudut pandang maskulin.”

Di negaranya, Ibsen dikenal sebagai satu dari empat serangkai sastrawan bersama Alexander Kielland, Jonas Lie, dan Bjornstjerne Bjornson. Pertemanannya dengan Bjornson bahkan berlanjut dengan bantuan finansial di masa awal karir Ibsen. Anak mereka pun akhirnya berjodoh. Sayang, belakangan pertemanan mereka retak setelah Ibsen menyindir karakter besannya itu lewat sebuah naskah dramanya.

Semasa hidupnya, sastrawan kelahiran kota pelabuhan Skien, Norwegia, 20 Maret 1828 ini menelurkan tidak kurang dari 26 naskah drama. Sebagian besar adalah naskah kontemporer yang bertema kehidupan manusia. Sebelum drama kontemporer menyajikan tema sisi kelam kehidupan manusia, Ibsen sudah mengeksplorasi kemunafikan, hubungan bebas, incest, masalah sosial dan penyakit masyarakat, hingga kemiskinan yang menjerumuskan orang dalam kenistaan.

“Masalah yang diungkapkan Ibsen dalam dramanya masih relevan hingga saat ini,” kata Frode Helland, direktur Ibsen Center, Oslo.

Di antara puluhan karyanya itu, A Doll’s House, Peer Gynt, The Wild Duck dan Hedda Gabler termasuk yang paling terkenal. A Doll’s House adalah karya Ibsen yang paling sering dipentaskan.

Drama kehidupan manusia ini menggambarkan pernikahan kering penghargaan dan miskin cinta antara Torvald dan Nora Helmer. Pada babak ketiga naskah drama ini, Ibsen menggambarkan bagaimana kesepian, kepura-puraan, keterpaksaan, dan kehidupan yang hanya jadi mainan merupakan sumber malapetaka dalam perkawinan.

“Rumah kita semata hanya sebuah ruang bermain. Aku hanya istri boneka buatmu, sebagaimana aku jadi boneka Papa di rumahku dulu. Anak-anak kita jadi bonekaku juga. Aku sangat bahagia tatkala engkau datang dan bermain denganku, sama halnya saat mereka datang dan bermain denganku. Itulah nasib perkawinan kita, Torvald.”

Tema lain yang banyak diangkat oleh Ibsen adalah tentang pertentangan batin manusia yang tertekan. Berkali-kali Ibsen dengan jelas menjadikan bunuh diri sebagai akhir jalan cerita dramanya.

Dalam Helda Gabler (1890), Ibsen menggambarkan kekuasaan absolut yang mampu membeli fisik seseorang namun gagal membeli perasaan cinta. Sang tokoh, Helda Gabler menggambarkan derita batinnya karena paksaan cinta seorang hakim yang ingin memperistrinya dengan cara membela nasibnya.

“Dalam kekuasaanmu, semuanya sama! Semua tunduk pada kehendak dan keinginanmu. Tiada lagi kebebasan! Kau pikir kau bisa membeli cintaku hanya karena memiliki fisikku!”

Sebagaimana dalam A Doll’s House, kisah Helda Gabler juga berakhir dengan bunuh diri. Ada tulisan yang menyebut cerita bunuh diri sebagai gambaran jiwa Ibsen yang kesepian dan didera depresi. Ia dikabarkan pernah mencoba bunuh diri berkali-kali.

Periode awal karir Ibsen dilaluinya di Christiania (kini Oslo) pada 1850. Di masa ini, sebagai mahasiswa Heltberg—yang dikenal sebagai kampus mbeling yang mencetak jurnalis, Ibsen menampakkan ketertarikan pada atmosfer revolusi. Tahun itu, ia menulis dua drama Cataline dan The Burial Mound, yang ia tulis dengan nama samaran Brynjolff Bjarme.

Cataline hanya terjual beberapa kopi, namun The Burial Mound digelar tiga kali pada tahun itu. Cataline bahkan belum pernah dipertunjukkan hingga 1881. Di sela-sela periode itu, Ibsen mencari nafkah sebagai “penyair panggung” dengan membacakan puisi bertema kejayaan masa silam Norwegia. Bekerja untuk teater kecil Den Nationale Scene, pada 1851 ia muncul tidak kurang dari 150 kali. Setahun kemudian ia dikirim ke Denmark dan Jerman untuk sebuah tur sastra.

Pada 1857 ia kembali ke Christiania dan langsung dipromosikan sebagai pengarah artistik untuk Norske Theatre. Sayangnya, pada masa-masa itu teaternya bangkrut dan Ibsen dipindahkan ke Christiana Theatre. Pada periode ini Ibsen melahirkan banyak karya bertema komedi satir. Sayang, sejumlah naskah dramanya tidak berhasil menarik hati penonton.

Kejenuhan memaksanya bertualang ke luar negeri. Tercatat ia pernah berdiam di Roma, Italia selama 27 tahun, lalu ke Munich, dan Dresden. Karyakarya terbaiknya, termasuk Brand (1866) lahir di Munich. Naskah drama ini konon diilhami gagasan filsuf Denmark Soren Kirkegaard tentang teori subjektivitas kebenaran.

Simbol tragedi ia munculkan lewat sosok tokoh pendeta, yang menjunjung tinggi prinsip hidupnya hingga mengorbankan jiwa anak dan istrinya.

Sebelum terjerumus dalam lubang depresi yang dalam, kehidupan yang ia lalui di Munich merupakan periode paling produktif dalam hidupnya. Di kota itu ia menikahi Suzannah Thoreson pada 1858 dan menghasilkan banyak naskah drama. Mulai dari The Pretenders (1863), Love’s Comedy (1863), Brand (1866), Peer Gynt (1867), Emperor and Galilean (1873), Pillars of Society (1877), dan An Enemy of the People (1882).

Selain menulis drama, karir kepenulisannya juga diisi dengan menulis puisi. Tidak serupa penyair di masa itu yang dikuasai gaya Romantik, puisi dan prosa liris karya Ibsen dipenuhi pertanyaan tentang makna hidup dan gagasan yang hanya bisa ditemui dalam sastra modern.

Di akhir hidupnya, Ibsen banyak menghabiskan waktu menciptakan karya berisi perenungan. Master Builder yang dibuat hanya berselang 8 tahun sebelum kematiannya, menyiratkan pesan antargenerasi. Gemanya tetap terasa hingga kini, seabad setelah ia pergi. “Akan datang berbondongbondong mengetuk pintuku, mereka dari generasi masa depan.”

[25 Juni 2006, Ruang Baca Tempo]
Read More...

Perlawanan atas Hegemoni Jawa

Ketegangan antara pusat dan daerah yang teraktualisasikan berupa tuntutan merdeka di Aceh, Papua (Irian), Riau dan Makassar (bahkan secara diam-diam sebenarnya daerah lain juga), dengan segala latar penyebabnya, sebenarnya bukanlah hal yang baru. Rezim Soeharto lah yang begitu kokoh selama 3 dasawarsa berkuasa telah membuat banyak orang lupa adanya akar-akar ketegangan tak terselesaikan di masa lalu. Seharusnya bukannya orang-orang pintar dari Jawa yang kini terkejut dengan segala tuntutan lokal itu, tapi orang-orang pintar (?) itu layak terkejut bahwa selama ini mereka bisa melupakan api dalam sekam itu.

Dalam rezim Soekarno ketegangan itu sebagian teraktualisasikan dalam pemberontakan daerah, kemudian ''ditumpas'' tapi sebenarnya tak berhasil, karena akar-akar wacananya tetap hidup di daerah. Lalu dalam rezim sentralistik-represif Soeharto, akar dari pucuk-pucuk pohon ketidakpuasan daerah yang ditebang rezim Soekarno itu, malah terpupuk subur, bahkan menciptakan tanaman ketegangan baru di daerah-daerah lain. Studi tentang tema ketegangan pusat dengan daerah pada rezim Soeharto, sekalipun tak banyak dan belum menghasilkan jawaban yang memuaskan, hampir-hampir tak pernah diperhatikan orang pintar dari Jawa. Studi dan analisis juga telah dilakukan tentang era rezim Soekarno, dilakukan peneliti Barat dan Indonesia. Sebutlah secara acak Kahin (1952), Feith (1963), Harley (1974), Geertz (1963), terus ke Sjamsuddin (1990) ataupun Lerissa (1991).

Sebagian dari hasil studi itu, (sekalipun konteks sudah berubah dan kompleksitas permasalahannya berkembang) kini mulai juga dipantulkan dan dijadikan argumen orang pintar dari Jawa, termasuk sebagian para pejabat pemerintah, militer termasuk anggota parlemen untuk menjelaskan ketegangan yang sekarang terjadi. Argumen itu kini mendominasi media massa Jakarta, dan solusi pemecahan yang ditawarkan masih sebatas retorika pemberian hak otonomi dari pusat ke daerah dalam hal keadilan sosial-ekonomi, otonomi politik, (plus tambahan sekedar lampiran: otonomi budaya dan agama untuk Aceh). Seakan-akan dengan itu semua keadaan menjadi beres, dan negeri ini dapat lenggang kangkung berjalan menuju ke apa yang kini disebut secara tak jelas sebagai ''Indonesia Baru''. Ini merupakan suatu penggampangan kompleksitas permasalahan yang patut disesalkan, karena pusat gempa politik itu sebenarnya bukan berada pada wilayah ekonomi, ketidakadilan sosial dan politik, tapi pada wilayah penolakan hegemoni Jawa. Faktor-faktor ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik hanyalah faktor-faktor yang memperkuat, mempertajam, serta memicu faktor utama, yakni faktor penolakan orang luar Jawa untuk takluk dalam hegemoni Jawa.

Ketegangan pusat-daerah, Jawa-Luar Jawa itu, ingin saya lihat jauh ke belakang, ke wacana abad-abad yang dilupakan melalui sisi penolakan hegemoni politik Jawa dan pantulannya yang sebangun (sekalipun tak sama) dengan masa kini. Kebetulan, riset saya belakangan ini di Universitas Hamburg-Jerman, memusatkan perhatian pada tema wacana teks klasik tentang hubungan politik antara apa yang kini dikenal sebagai Jawa dan Luar Jawa dalam konteks abad 16-18 (Die politischen Beziehungen zwischen Malay und Java in der klassischer malaiischer Texte).

Dalam tulisan berikut ini setiap kali penyebutan Jawa, dimaksudkan bukan dalam artian etnik (suku) Jawa, melainkan pusat kekuasaan yang ada di Jawa (Jakarta). Pusat kekuasaan itu dikendalikan baik oleh penguasa orang Jawa, maupun oleh orang luar Jawa yang telah menjadi bagian dari, dan pengabdi pada, kekuasaan Jawa. Orang yang terakhir ini ingin saya namakan sebagai ''Orang Jawa-Luar'', artinya orang Jawa yang datang dari luar etnik Jawa. Dalam riset saya, ada pemisahan yang tajam antara pusat kekuasaan politik Jawa di satu pihak dengan peradaban Jawa di pihak lain. Hegemoni Jawa yang dirujuk tulisan ini dimaksudkan pada kekuasaan politik Jawa dan bukan pada peradaban Jawa dan bukan pada peradaban Jawa yang sebenarnya tidak menimbulkan ketegangan. Peradaban Jawa mendapat tempat penerimaan dalam beberapa kasus di luar Jawa, sebaliknya kekuasaan politik Jawa mendapat penentangan juga oleh pembelot-pembelot Jawa yang melarikan diri ke luar Jawa.

Sumber ketegangan utama Jawa-Luar Jawa temuan riset saya adalah penolakan luar Jawa (dunia Melayu) terhadap hegemoni politik Jawa (dalam teks Melayu direduksi menjadi Majapahit). Padahal Jawa pada waktu itu tidak menaklukkan dunia luar Jawa secara ekonomi dan teritorial dalam pengertian masa kini. Jika fakta menunjukkan dalam Indonesia moderen bahwa Jawa telah berperan sebagai penjarah ekonomi daerah dan sebagai penguasa tunggal suatu kawasan nyaris seluas benua Eropa, maka hal itu tidak berlangsung di dunia klasaik ini. Tapi ketegangan, dendam kesumat dan kemuakan pada pusat kekuasaan Jawa telah berlangsung di abad-abad yang lalu itu.

Teks-teks yang saya teliti merupakan wacana dari dunia Melayu yang melakukan perlawanan terhadap hegemoni politik Jawa untuk mengukuhkan kedaulatan di dunia mereka sendiri. Ini merupakan wacana reaksi dan perlawanan dari orang yang secara politik menolak untuk ditaklukkan Jawa. Dalam wacana Melayu, Majapahit bukanlah pusat kekuatan yang besar, bertolak belakang dengan wacana Jawa tentang Majapahit dalam teks Nagarakrtagama. Teks Nagarakrtagama khususnya bagian ekspansi fasisme Jawa ke luar Jawa dapat dianggap sebagai wacana angan-angan keangkuhan hegemoni Jawa, dan bukan sebuah dokumen historis, sebagaimana secara kontroversial pernah dibongkar Berg (1974). Sayangnya Sejarah Nasional resmi Indonesia (yang tetap diagitasikan ke jutaan murid sekolah Indonesia, termasuk murid di luar Jawa) masih berdasar tahyul Majapahit raya dan teks Jawa Nagarakrtagama. Tahyul ini telah diabsahkan sejarahwan Jawa yang berperan sebagai Prapanca-prapanca moderen, mulai dari Muhammad Yamin yang menjawakan dirinya sampai ke Nugroho Notosusanto termasuk Sartono Kartodirdjo beserta ''sejarahwan'' resmi yang menjadi pengikut setianya.

Jika teks Jawa Nagarakrtagama memuja kesuksesan ekspedisi Majapahit menghancurkan dunia Melayu melalui ekspedisi Pamalayu 1275, maka teks Melayu seakan mencemooh kesuksesan ekspedisi yang secara historis meragukan itu. Jangankan sukses menaklukkan Nusantara sebagaimana dengan angkuh dan sesumbarnya disumpahkan Patih Gajah Mada yang fasis itu, sedang Singapura sajapun tidak berhasil dihancurkan Majapahit. Teks Sejarah Melayu (edisi Shellabear 1896) memperlihatkan bagaimana militer Jawa pulang babak belur dengan kekalahan. Bila Majapahit berhasil mengalahkan Singapura, maka itu merupakan kemenangan murahan, karena Singapura kalah bukan karena raksasa Majaphit lebih kuat, tapi karena pembelotan elit di dalam negeri Singapura yang menyuruh dan membantu Majapahit menikam Singapura dari belakang. Jadi wacana teks dua kali menghancurkan wibawa dan martabat Majapahit. Pertama Majapahit kalah berperang dengan Singapura, kedua Majapahit hanya bisa menang perang di luar Jawa bila bekerjasama dengan pengkhianat setempat.

Aceh yang diserbu Majapahit secara besar-besaran di dalam teks Hikayat Raja-raja Pasai (Koleksi Raffles, MS 67) bukanlah Aceh yang mudah menyerah. Sekalipun teks ini menyalahkan Sultan Pasal yang memperlemah kekuatannya, tapi Majapahit sebenarnya tidak berhasil mengalahkan Pasai. Pasai kalah oleh Majapahit bukan karena militer Majapahit lebih kuat dari militer Pasai, tapi karena Majapahit dibantu oleh aliansi kerajaan-kerajaan Sumatera untuk mengeroyok Pasai yang ada dalam kondisi lemah. Itupun dengan susah payah baru bisa Pasai dikalahkan. Tapi Majapahit sebenarnya lebih dulu wibawa dan martabatnya dihancurkan Pasai melalui simbolisasi demoralisasi anak perempuan raja Majapahit yang menggilai anak Sultan Pasai sampai nekat bunuh diri di perairan Aceh. Jadi teks ini dua kali juga menghancurkan wibawa dan martabat Majapahit, Pertama anak raja Majapahit mati bunuh diri karena menggilai anak Sultan Pasai. Kedua, Majapahit tidak bisa sendirian mengalahkan Pasai yang lagi lemah kalau tidak main kroyok dengan kerajaan lain.

Wacana tentang Aceh klasik ini secara replektif bisa dibandingkan dengan mengajukan pertanyaan apakah TNI benar-benar bisa menaklukkan rakyat Aceh yang kelihatan dari sudut militer lemah? Apakah dengan pendekatan represif di Aceh, sekalipun rakyat Aceh banyak telah menjadi korban, pihak TNI telah berhasil memperoleh kemenangan, ataukah justru jatuh terjerembab wibawa dan martabatnya di mata rakyat dan dunia internasional? Bila TNI dengan kekuatan militer masih terus nekat ingin menegakkan hegemoni Jawa di Aceh, tidakkah itu merupakan tindakan bunuh diri seperti puteri Majapahit yang mati bunuh diri di Aceh?

Dalam teks Hikayat Raja-raja Pasai juga, orang-orang Minangkabau menolak takluk dalam hegemoni Jawa degan menunjukkan rendahnya kecerdasan penguasa Jawa dalam menaklukkan Minangkabau. Kerbau kuat yang dibawa dari Jawa mati berlaga dengan anak kerbau kurus Minangkabau dalam adu kerbau tak seimbang yang sangat mendebarkan dan mempertaruhkan harga diri Jawa di Minang. Matinya kerbau Jawa yang kekar dan kuat oleh anak kerbau Minang yang kelaparan dan loyo dalam adu kerbau itu menunjukkan penghinaan teks ini pada keangkuhan penguasa Jawa. Jawa boleh kuat secara militer tapi bodoh secara intelektual. Kebodohan yang akhirnya menggilas kekuatan militernya sendiri. Pasukan Jawa yang harga dirinya sudah jatuh karena harus menerima kekalahan perang simbolis itu, masih dihancurkan lagi dengan kelicinan Minang yang membuat pasukan militer Jawa yang moralnya sudah ambruk itu gampang dibunuh. Kasus ini memperlihatkan cara berpikir penguasa Jawa yang merasa paling tahu untuk mengatur kebijakan orang-orang di luar Jawa. Cara berpikir yang merasa paling tahu tentang kondisi dan kekuatan lokal yang jauh dari Jawa itu bukan hanya tidak berhasil mencapai target yang diinginkan, tapi berakhir jadi bumerang untuk Jawa.

Tidak hanya di luar Jawa kekuasaan Jawa itu dihancurkan. Saking geramnya dunia Melayu dalam menolak hegemoni Jawa, wacana mereka juga menyerang dan menghancurkan wibawa dan martabat Jawa jutru di Jawa. Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Banjar merupakan wacana untuk menghajar pusat kekuasaan Jawa yang selama ini (melalui hegemoni Jawa itu) telah menghancurkan kedaulatan dunia Melayu. Teks Hikayat Hang Tuah yang versi salinannya ditemukan lebih 20 dan terbanyak tersimpan di museum London itu, sangat radikal menampilkan kekuatan dan kemarahan Melayu mengobrak-abrik istana Majapahit, membunuh militer Jawa, mempermalukan raja Jawa dan panglima militernya, serta meruntuhkan pusat sakral kekuasaan Jawa. Kemarahan dunia Melayu terhadap Jawa sampai melumpuhkan pusat kekuasaan Jawa ini dengan fokus yang lain, telah saya ungkapkan dalam tulisan saya sebelumnya (Republika 3 Maret 1999). Perlawanan luar Jawa terhadap hegemoni Jawa, dengan demikian bisa mencapai tahap radikalnya, yang justru menghancurkan Jawa, tahap yang tak terbayangkan oleh kekuasaan Jawa yang merasa diri paling kuat di jagad Nusantara ini.

Teks Hikayat Banjar (Rass 1968) memperlihatkan bagaimana pusat kekuasaan Jawa berhasil ''ditaklukkan'' oleh Banjar tanpa perang. Penolakan hegemoni Jawa oleh kekuatan Banjar langsung di Majapahit menghadirkan kegemparan di pusat kekuasaan Majapahit karena teks benar-benar menghajar tanpa ampun wibawa pusat kekuasaan Jawa. Raja Majapahit dan Gajah Mada beserta jajaran elitnya di negerinya sendiri ditunjukkan jadi gemetar, terpuruk ketakutan ketika mendengar Lambu Mengkurat, penguasa Banjar, datang ke Majapahit. Raja Majapahit dalam pandangan rakyat Jawa tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun benar-benar dihina dan direndahkan oleh penguasa Banjar itu. Penguasa dari Kalimantan ini tidak mau tunduk pada Majapahit karena dia menganggap kehebatan Raja Majapahit, kekayaan, dan kekuatannya ada di bawah penguasa Banjar. Secara keseluruhan teks ini merupakan reaksi paling ironis dalam melawan hegemoni Jawa di Banjar, sebab pada bagian awal, teks dengan parodi menonjolkan berlangsungnya hegemoni Jawa di Banjar, yang telah menggiring dan menjadikan orang Banjar sebagai fotokopi dari Jawa.

Ini sekadar sketsa beberapa contoh kasus wacana masa lalu dari beberapa teks. Ada ratusan wacana masa lalu lainnya, tidak hanya dalam teks klasik tapi dalam bentuk tradisi lisan yang tersebar di luar Sumatera, seperti di daerah Sunda, Kalimantan, Sulawesi ataupun kawasan timur Indonesia. Wacana modern mungkin terekam dengan baik, atau tetap hidup segar dalam pikiran orang-orang luar Jawa. Pada era rezim Soeharto yang sentralistik-represif, wacana penolakan hegemoni Jawa tidak mati, melainkan hidup bahkan berkembang sekalipun melalui suara bisik-bisik di lorong sempit kampus-kampus luar Jawa. Sebagian hadir berupa makian ataupun umpatan kekesalan di kaki lima kota-kota luar Jawa, di kedai kopi kampung-kampung terpencil, di tengah ladang dekat lintasan pipa besar yang mengalirkan minyak ke Jawa, di tepi hutan yang telah diluluhlantakkan pengusaha dari Jawa ataupun di depan kantor Koramil yang tidak bisa tidak selalu membela kepentingan Jawa.

Sedangkan tanpa pengambilan aset ekonomi dan penguasaan wilayah pun perlawanan luar Jawa atas hegemoni Jawa tetap berlangsung seperti yang ditunjukkan teks-teks klasik. Apalagi kini hegemoni Jawa itu diikuti dengan penjarahan, penindasan dan pembunuhan. Jika sekarang ketegangan itu meledak, maka bila dilihat dari sisi luar Jawa, itu adalah ledakan bom waktu yang sudah terlalu lama diyakini akan meledak. Untuk Aceh saat ini mungkin sudah terlambat, entahlah kalau secepatnya meloncat ke sistem federasi. Federasi mungkin menjadi juru selamat, setidaknya untuk daerah-daerah yang belum ''panas''. Keadaan bisa menjadi sulit jika melihat, sekarang penguasa Jawa yang mengendalikan Indonesia masih menginginkan luar Jawa sebagai daerah taklukan: persis seperti Gajah Mada menginginkan jagad Nusantara ada dalam genggamannya. Penguasa Jawa saat ini belum bisa menangkap (atau tidak mau menangkap) suasana batiniah orang-orang luar Jawa yang dari dulu sebenarnya tidak pernah mau diperintah dan dikendalikan oleh ''orang pintar'' dan orang kuat yang jauh di Jawa sana.

[Anonim]
Read More...

Sastra dan Psikologi, Sebuah Perkawinan

Minat kita untuk sastra bukan karena kita mengenali apa yang kita ketahui tentang diri kita teori klasik), tetapi karena dalam sastra kita mengetahui apa yang tidak kita ketahui tentang diri kita sendiri. --Max Milner & Sigmund Freud dan Interpretasi Sastra

Menangkap "manusia", menjeratnya dalam kata-kata, adalah upaya sia-sia yang patut. Sastra dan psikologi sama-sama berusaha memahami manusia, dengan susah payah. Keduanya amat mengandalkan kata dalam berupaya memahami manusia. Walau "manusia" selalu berkelit dari kata, dalam sebuah kejar-mengejar "bertukar tangkap dan lepas", kita semakin dipahamkan akan "manusia" oleh sastra dan psikologi.

Sastra dan psikologi bertemu dalam sebuah kewajaran. Pada dini fajar peradaban—setidaknya jika kita bersandar pada sejarah versi Barat—di Yunani Kuno, 2600 tahun lalu, keduanya berjumpa dalam sebuah cinta monyet. Ketika itu, psikologi belum jadi psikologi.

Aristoteles hanya menyebutkan sesuatu semacam psikologi, yang diartikannya sebagai "ilmu yang memelajari jiwa dan aksiden-aksidennya." (Encyclopaedia of Social Sciences Vol. 11). Saat itu, sastra pun belum jadi sastra seperti yang kita kenal sekarang.

Hanya memang ada mitologi, hakikatnya adalah seni naratif, yang menjadi sumber nama Psikologi diambil. Psikhê adalah gadis indah yang dicintai Cupid si dewa cinta. (Apakah cinta sebuah masalah psikologi?)

Ia juga menjadi kata untuk "kupu-kupu" dan "jiwa". Di haribaan Psikhê, Cupid yang selalu kanak menjelma lelaki dewasa. (Ah, "psikologi perkembangan"!) Bunda Cupid, Venus sang dewi kecantikan, merasa dengki pada kecantikan Psikhê. (Hm, konflik emosional...) Dia selalu membuat hidup Psikhê bak dalam neraka.

("emotional abuse"?) Psikhê adalah sosok jiwa yang selalu tersiksa, pasien ideal seorang psikoanalis. Kisahnya mengandung banyak amsal masalahmasalah psikologi.

Demikian juga dengan seni sastra terkemuka saat itu, yakni seni drama. Dua aliran drama yang rupanya waktu itu khas Yunani—tragedi dan komedi—sengaja atau tidak, mengandung banyak amsal psikologi.

Orang bisa bilang, genre tragedi selalu tentang takdir dan ketakberdayaan manusia. Tapi takdir menjadi tragedi ketika jiwa harus menanggung luka akibat sebuah permainan nasib. Begitu juga komedi adalah drama tentang aneka keanehan jiwa.

2500 tahun kemudian, Sigmund Freud memahami ini, dan meminjam banyak bagian drama Yunani Kuno dalam menjelaskan teori-teorinya tentang jiwa manusia. Dalam sosok Freud, sastra dan psikologi seolah kawin. Bukan hanya ia menuliskan teori-teorinya dalam kadar prosa yang kental, Freud juga banyak diilhami khasanah sastra dalam mengembangkan teori-teorinya.

Seperti kata Milner, minat Freud pada sastra bukan kebetulan. Paling tidak, ada dua hal yang menyebabkan sastra dan psikologi hidup sebagai pasangan harmonis dalam diri Freud. Pertama, "...psikoanalisis adalah suatu metode interogasi tentang psike manusia yang sepenuhnya didasarkan pada tindakan mendengarkan kata-kata pasien." (Milner, 1992).

Dari segi ini psikologi sangat berkepentingan pada sastra, dan sebaliknya. Kedua, masih menurut Milner, Freud menjadikan mimpi, fantasme, dan mite sebagai bahan dasar teorinya—dan ketiganya adalah bagian dari imajinasi, sebuah unsur penting dalam sastra. Menyusuri karya-karya ilmiah Freud, kita bisa menyimpulkan bahwa sastra bukan hanya ilham baginya, tapi juga modus mendedahkan ide-idenya.

Entah karena itu, atau sebab lain, ketika karya pertama Freud tentang histeria (ditulis bersama Breuer, pada 1895), tidak disambut oleh komunitas ahli kejiwaan; tapi disambut oleh seorang penulis, Alfred von Berger: "Teori itu sendiri, yaitu teori Freud dan Breuer, pada hakikatnya tak lain ...jenis psikologi yang digunakan oleh para penyair..." (dalam Milner, 1992).

Mungkin ini adalah semangat zaman ketika itu. Sebelum Freud, Charles Darwin menuliskan pengamatannya pada alam—dan melahirkan sebuah teori tentang, antara lain, hakikat biologis manusia-dalam prosa sastrawi. Lebih mencolok lagi, di Prancis, Rusia, Amerika, Inggris, muncul novelis-novelis yang begitu menggandrungi kisah tentang jiwa-jiwa yang tersiksa.

Flaubert (Madame Bovary), Fyodor Destoyevsky (Catatan Bawah Tanah dan Crime and Punishment), Edgar Alan Poe, Robert Louis Stevenson...adalah upaya-upaya klasik-modern memahami derita jiwa dalam bentuk sastra.

Seperti psikoanalisis ingin menggali kebenaran jiwa yang ditekan, "...sastra menyajikan kebenaran, kebenaran yang tak diakui, kebenaran yang direpresi..." (Milner, 1992).
Dalam hubungan harmonis ini, sastra merengkuh psikologi sebagai kemestian.

Sebagai pewaris utama tradisi renaissance yang oleh banyak orang dianggap telah melahirkan "manusia" (humanisme), sastra modern terobsesi pada jatuh-bangunnya jiwa individu. Jadilah, psikologi sebagai ranah yang amat relevan bagi sastra.

Psikologi bahkan jadi ukuran sastra. Sepanjang abad ke-20, psikologi menjadi begitu populer. Dalam standar pelajaran menulis kreatif, atau menulis fiksi, sebuah bab penting adalah "penciptaan karakter"—dan kepada siapakah pelajaran ini mengacu, selain pada psikologi?

Karakter fisik memang penting, tapi jauh lebih penting adalah karakter kejiwaan. Kemampuan seorang pengarang diukur dari kemampuannya menciptakan sifat psikologis yang "hidup" pada tokoh-tokohnya.

Dalam perkawinan yang menua, hubungan bisa memberat bisa meringan. Mulai tampak cekcok antara psikologi dan sastra. Teori-teori standar mulai diemohi.

Premis-premis psikologis dipermainkan. Bahkan dalam sebuah novel detektif populer karya Agatha Christie, kecenderungan pada psikologi ini pun diolok: setelah Inspektur Battle menyimak penjelasan seorang kepala sekolah yang membanggakan "metode psikologis"- nya dalam memecahkan sebuah kasus, ia berkomentar pada putrinya (setelah menyatakan kepala sekolah si putri adalah tolol), "Kepala sekolahmu yang berpandangan mata seperti bor itu benaknya sudah dipenuhi oleh pengertian yang salah-kaprah dari segala macam teori."

(Agatha Christie, Menuju Titik Nol). Jangan salah, novel detektif adalah salah satu ranah sastra yang paling berkepentingan pada psikologi. Novel-novel Agatha Christie sendiri dipenuhi oleh studi psikologis yang mencekam. Tapi Agatha menulis olokan pada kegandrungan terhadap psikologi (populer) itu pada 1944! Lebih dari sekadar olokan, pada 1951, novel Catcher In The Rye (J.D. Sallinger) menggugat definisi kegilaan. Apakah Holden Caulfield, sang narator novel itu, memang gila dan harus dirawat di RSJ, atau sekadar seorang pemberontak yang disalahpahami?

Lebih dari itu, sastra dan psikologi pada akhir abad ke- 20 hingga kini sedang samasama menekur: apakah mereka telah lebih memahami "manusia"? Dan kita, pembaca, mungkin bertanya-tanya: ke manakah arah perkawinan mereka?

Yang jelas, upaya menangkap "manusia" adalah seperti menangkap kupu-kupu. Kita tak mungkin menangkap terbang kupu-kupu, tapi kita bisa menangkap dan mempelajari sang kupu-kupu sendiri. Walau lazimnya kupu-kupu yang dipelajari di meja para ahli kupu-kupu adalah kupu-kupu mati; setidaknya pengetahuan kita tentang kupu-kupu bertambah sedikit dengan itu.

[Hikmat Darmawan. Ruang Baca Tempo. 25 September 2005]
Read More...

Buku-buku yang Membunuh

Sebuah buku bahkan bisa mengilhami lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian.

8 Desember 1980. Malam musim dingin di Manhattan sudah tua. Jarum waktu menunjuk pukul 23.00. Sebuah sedan limusin berhenti di depan Dakota. Itu bukan nama kota, tapi sebuah apartemen luks tempat orangorang berduit tinggal; orang-orang seperti penumpang limusin itu.

Dari dalam mobil mewah keluar pria berusia 40 tahun. Ia berjalan menuju apartemennya. Namun baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil, empat tembakan membelah malam.

Pria itu—John Lennon—jatuh mandi darah. Dengan mobil polisi ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Roosevelt, namun itu tak berguna. Lennon pergi dan gagal merayakan Natal tahun itu.

Tak jauh dari darah yang menggenang, seorang pria duduk di atas trotoar. Dengan bantuan sinar lampu jalanan, dengan tangan yang bertabur bubuk mesiu, ia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. The Catcher in the Rye, judulnya. J.D. Salinger, pengarangnya.

Buku yang dibelinya dari sebuah toko buku di Fifth Avenue itu sudah mulai lusuh. Bukan karena tua. Baru beberapa hari lalu ia membelinya, setelah yang lama hilang ketika ia berlibur ke Hawaii.

Pria itu, Mark Chapman, amat suka dengan sampulnya yang didominasi merah dan huruf kuning. Menurutnya, warna itu sangat dramatis dan cocok. Tapi ia lebih suka isinya. Begitu sukanya hingga ia baca berkali-kali tanpa bosan.

Chapman yakin buku itu diciptakan untuknya. Ia yakin Holden Caulfield, tokoh utama novel itu, adalah dirinya. Bahkan Chapman sempat ingin mengganti namanya menjadi Holden Caulfield. Untuk menghidupkan fantasinya, pria berkacamata itu juga pernah menapaktilasi jalanan New York yang dilalui Holden pada malam-malam dingin menjelang Natal.

Tak cuma itu, saudara. Chapman juga percaya, kisah hidupnya akan menjadi pelengkap, menjadi bab terakhir The Catcher. Di halaman depan, Chapman menulis: “This is my statement. Holden Caulfield—The Cather in the Rye.”

Malam itu, malam dibunuhnya musisi rock terbesar, novel yang terbit pertama kali pada 1945 itu memang tak ditulis ulang, tapi seorang tengah membacanya perlahan, dengan tekun, seperti sedang merapal kitab suci. Ia yakin, apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah drama yang luput ditulis oleh Salinger.

Salinger—di luar bahasa kasar yang membuat novel itu dilarang selama beberapa tahun—tentu tidak bermaksud mengilhami siapapun untuk membunuh atau berbuat kasar. Hal yang sama juga pasti tidak dilakukan oleh Anthony Fawcett saat menulis One Day At A Time. Tapi toh kedua buku itu menggerakkan Chapman untuk membunuh Lennon.

Chapman seorang psycho? Tentu, banyak yang percaya itu. Pasti ada yang tak beres pada otak seorang yang membunuh karena membaca sebuah novel. Tapi Chapman tak sendiri. Nun ribuan kilometer dari New York, lima belas tahun setelah Lennon terkapar oleh peluru Chapman, sebuah pembunuhan yang lebih keji terjadi. Juga karena sebuah novel.

Di stasiun bawah tanah Tokyo, pada awal musim semi, dua belas orang tewas dan lima ribu orang terluka. Sebuah sekte kiamat bernama Aum Shinrikyo meledakkan gas sarin di sana. Mereka melakukan ini bukan karena ajaran kitab suci yang disalahpahami, seperti halnya Azahari dan kawan-kawan saat meledakkan bom bunuh diri, tapi karena amat terpengaruh oleh serial novel Foundation buah pena Isaac Asimov.

Novel itu menggambarkan alam raya menjelang kehancuran sebuah kekaisaran. Saat itu hanya Foundation, sebuah kelompok rahasia pimpinan Hari Seldon, yang mampu menyelamatkan peradaban sebelum hilang di era kegelapan. Pengikut Seldon, yang merupakan para ilmuwan itu, memeluk agama baru.

Meski cerita Asimov ini berlatar belakang Romawi kuno, anggota Aum Shinrikyo melihat banyak kesamaan antara masyarakat Romawi itu dan masyarakat Jepang modern. Shoko Asahara, sang pemimpin, mengatakan berkali-kali bahwa peradaban akan segera runtuh, dan hanya yang percaya pada ajaran barunya yang selamat.

Seperti Seldon, ia juga menggaet sejumlah ilmuwan dari berbagai bidang. Ia berusaha mewujudkan fiksi menjadi nyata.

Dalam sebuah wawancara, Hideo Murai, ketua para ilmuwan sekte itu, mengatakan bahwa tujuan Aum adalah untuk menyelamatkan manusia, seperti yang tecermin dalam Foundation. Aum bahkan menggunakan serial Foundation sebagai cetak biru rencana jangka panjang mereka. Kelompok ini menarik minat para ilmuwan muda yang rajin membaca novel fiksi ilmiah. Asahara yang buta itu menganggap dirinya sebagai Seldon dan Aum adalah Foundation.

Chapman terpengaruh secara emosional, Aum terpengaruh secara ideologi, tapi ada juga yang menjadikan novel sebagai buku panduan. Adalah Timothy McVeigh yang menjalankan dengan tepat aksi teror yang diceritakan dalam The Turner Diaries. McVeigh menggunakan novel itu sebagai pembimbing untuk meledakkan gedung federal di Oklahoma, Amerika. Seratus enam puluh delapan orang tewas karenanya.

Saat McVeigh ditangkap, polisi menemukan The Turner Diaries di mobilnya. “Aku” dalam novel itu meledakkan kantor pusat FBI dengan truk bom yang berisi amonium nitrat dan bensin. Cara inilah yang dipakai oleh McVeigh untuk meledakkan gedung federal itu. Temanteman McVeigh mengaku diminta olehnya untuk membaca novel karangan pemimpin National Alliance yang, seperti Hitler, mengelu-elukan supremasi kulit putih. Ia menggarisbawahi sejumlah kalimat di buku itu, termasuk, “tujuan dari serangan-serangan kita kini adalah untuk memberi dampak psikologis, bukan pada kerusakan yang serta merta.”

McVeigh bukan satu-satunya pengebom yang terinspirasi oleh novel. Ada juga Theodore John Kaczynski, Ph.D., yang mengirimkan sejumlah bom surat dalam rentang 18 tahun. Tiga orang tewas dan 29 lainnya terluka akibat aksi ini. Ia kemudian tertangkap pada 1996 dan dijatuhi hukuman mati.

Kaczynski mendapatkan ide dan inspirasi untuk melakukan teror ini dari sebuah novel berjudul The Secret Agent, karangan Joseph Conrad. Para agen federal bahkan harus mendatangkan ilmuwan pemerhati karya-karya Conrad untuk dapat mengerti dan mengetahui isi tempurung kepala sang doktor. Ya, maklum saja, Kaczynski telah khatam buku itu puluhan kali.

The Secret Agent adalah novel yang terbit pada 1907, tentang seorang teroris bernama Verloc yang melakukan sejumlah pemboman di London. Verloc adalah seorang provokator dari negara asing. Tak jelas negara mana, tapi kemungkinan Rusia yang dimaksud. Tak terbayangkan, bagaimana sebuah novel mampu mengilhami seorang jenius untuk membunuh selama hampir dua dasawarsa. Luar biasa.

Tapi, sesungguhnya, yang lebih dahsyat adalah novel The Collector karya John Fowles yang terbit untuk pertama kalinya pada 1963. Bayangkan, novel itu sudah menginspirasi, sedikitnya, lima pembunuhan berantai dan 40 pembantaian. Berbeda dengan novel-novel di atas, The Collector memang bercerita tentang pembunuh yang sakit jiwa. Dia adalah Frederick Clegg, seorang pria yang hobinya mengumpulkan kupu-kupu. Clegg jatuh cinta pada Miranda Grey, seorang mahasiswi fakultas seni yang menurutnya sangat cantik.

Singkat cerita, teman kita ini mendapat rezeki nomplok dan membeli rumah di tengah padang. Sendiri dan kesepian, Clegg ingin ditemani Grey. Tapi apa daya, Clegg tak bisa menyatakan cintanya. Seperti layaknya seorang psycho, ia adalah penyendiri yang gagap bermasyarakat. Ia lebih akrab dengan kupu-kupu dibanding wanita.
Akhirnya, cara itulah yang ia pakai. Grey diculik dan dijadikan salah satu “koleksinya”.

Grey kemudian meninggal dunia karena pnemonia di lantai bawah tanah yang lembab, tempat orang menyimpan anggur. Karena kematian itu, Clegg awalnya ingin bunuh diri. Namun ia memilih untuk melakukan hal lain yang lebih “cerdas”: menculik gadis lain untuk dijadikan koleksi.

Cerita ini menginspirasi banyak pembunuhan. Yang paling menarik perhatian adalah pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang bekas prajurit Angkatan Laut Amerika, Leonard Lake dan Charles Ng. Lake sebenarnya yang paling terinspirasi oleh The Collector, namun mereka melakukan skenario dalam novel itu bersama pada pertengahan 1980-an.

Mereka menyewa kabin di Wilseyville, 150 mil timur San Francisco. Di kabin itu keduanya membuat bunker dengan dua ruang. Ruang luar adalah tempat mereka menyimpan senjata. Ada tulisan “Operation Miranda” pada dindingnya. Miranda yang dimaksud tentunya adalah Miranda Grey dalam novel itu. Ruang dalam adalah ruang tertutup untuk menyekap dan mengubur 25 perempuan yang mereka culik dan bunuh.

Dalam buku harian Lake tertulis begini: “Ah, The Collector. Benarkah sudah hampir 20 tahun aku membawa-bawa fantasi ini? Dan Miranda? Betapa tepat? Sanderaku yang cantik di masa depan. Aku berada di jalanku untuk menjadi ‘pahlawan’, untuk menjadi gila. Aku tak ragu bahwa kami telah mengkompensasi ketidakmampuan yang kami miliki sejak fajar sejarah merekah. Sedih sungguh. Tapi, bagaimana kita bisa mati jika kita tak pernah hidup?”

Paparan di atas tentu saja tidak digelontorkan untuk mengatakan bahwa novel-novel itu “berbahaya”. Ada jutaan pembaca lain yang tidak membunuh setelah membaca novel-novel tersebut. Artinya, ada hal lain di luar teks novel itu yang membuat para pembunuh membantai korbannya.Namun novel memungkinkan pembaca untuk masuk ke dalamnya, menjadi bagian darinya. Hubungan antara novel dan pembacanya lebih karib dari hubungan film dan penontonnya.

Seperti ditulis oleh Goenawan Mohammad, ada imajinasi yang berperan untuk memvisulisasikan novel yang kita baca. Berbeda dengan film yang visualisasinya sudah tersedia, saat membaca novel pembaca sendiri yang menciptakan visual tokoh dan setting kejadian dalam otaknya, dengan bantuan imajinasi. Bisa jadi yang kita bayangkan adalah orang lain, tapi bisa juga diri kita sendiri. Bisa jadi imajinasi pembaca sekadarnya, bisa jadi juga berlebihan. Reaksi pembaca, memang, akhirnya tergantung sejauh mana keterkaitan pembaca dengan apa yang dibacanya. Tapi novel selalu membentangkan jalan bagi kita untuk “menciptakan” dunia sendiri, dunia yang kita khayalkan dengan bantuannya.

”Yang benar-benar meng-KO-ku adalah buku yang, saat kau selesai membacanya, kau berharap pengarang yang menulisnya adalah teman karibmu dan kau dapat meneleponnya kapan pun kau mau. Tapi itu tak sering terjadi.” Demkian Holden dalam The Catcher in the Rye.

[Qaris Tajudin. Ruang Baca Tempo. 16 Desember 2005]
Read More...

Fiksi Klise Tentang Psikopat

Kita akrab dengan stereotipenya: orangnya cerdas dan berselera tinggi terhadap aneka rangsangan intelektual, sikapnya terhadap orang lain tak menonjol, kariernya yang mengkilap, serta pembawaannya kalem, penuh perhitungan, dan selalu berhati-hati.

Karakteristik-karakteristik itulah yang segera timbul di benak kita manakala disebut kata “psikopat”. Dari mana semua karakteristik “standar” itu berasal? Hollywood.

Harus diakui, dari pusat industri film di Amerika Serikat itulah gambaran kita mengenai psikopat terbentuk. Nama yang seketika muncul barangkali adalah Hannibal Lecter (karakter dalam Silence of the Lamb, yang dimainkan oleh Anthony Hopkins). Sesudah itu mungkin ada John Doe dalam Se7en (dimainkan oleh Kevin Spacey), dan Mitch Leary dalam In the Line of Fire (oleh John Malkovich).

Atau bisa siapa saja di antara Vince Vega (John Travolta) dan Jules Winnifield (Samuel L. Jackson) dalam Pulp Fiction, Mickey dan Mallory Knox (masing- masing diperankan oleh Woody Harrelson dan Juliette Lewis) dalam Natural Born Killer, dan The Joker versi Heath Ledger (dalam The Dark Knight).

Mungkin juga, minimal, yang terbayang adalah pembunuh berseri. Tetapi, benar begitukah dalam kehidupan nyata? Tidak sepenuhnya.

Di antara karakteristik-karakteristik itu, yang disebut paling akhirlah yang paling bertolak belakang dengan ciri khas psikopat dalam kenyataan: mereka justru umumnya cenderung impulsif, kacau, dan emosional.

Robert Hare, ahli psikologi kriminal, menulis dalam buku Without Conscience: The Disturbing World of the Psychopaths Among Us (1993): “Psikopat adalah predator sosial yang memikat, memanipulasi, dan dengan keji membelah kehidupan, meninggalkan jejak kaum patah hati, harapan-harapan yang remuk, dan dompetdompet kosong.

Tak punya etika dan perasaan pada orang lain, mereka dengan egois mengambil apa yang mereka mau dan melakukan apa yang mereka senang, melanggar norma dan ekspektasi sosial tanpa sedikit pun rasa bersalah atau menyesal.”

Psikopat adalah gangguan kepribadian. Perlu wawancara mendalam untuk memastikan seseorang menderita gangguan itu. Tapi gangguan kepribadian merupakan konsep yang kontroversial; ada yang berpendapat bahwa gangguan kepribadian tak lebih dari istilah yang digunakan di kalangan medis untuk mendeskripsikan orang yang tak mereka sukai.

Sebenarnya, seperti kebanyakan masalah kesehatan mental, uji psikologis bisa menyediakan sederet kriteria sebagai dasar diagnosa. Tapi uji khusus untuk gangguan kepribadian sama sekali tak ada, sehingga diagnosa berdasarkan definisinya sulit diandalkan dan pasti tak valid.

Akibatnya, tak ada perawatan medis untuk gangguan kepribadian. Ini berarti bahwa penderita gangguan kepribadian tak bisa diakomodasi di dalam program-program perawatan atau penyembuhan yang memadai.

Walau begitu, berkat Hare, khusus untuk penderita psikopati ada perangkat untuk uji psikologis. Perangkat ini sudah menjadi instrumen standar bagi peneliti dan ahli.

Langkah-langkah yang mesti dilakukan adalah memeriksa derajat sejumlah karakteristik pokok. Misalnya dalam hal derajat emosional/antarpersonal, psikopat akan menyingkap dirinya orang yang spontan dan superfisial, egois dan ambisius, tanpa rasa sesal, salah, dan empati, bohong dan manipulatif, serta emosi yang dangkal.

Ada hal lain yang disumbangkan Hare. Penelitian-penelitiannya memberitahu kita bahwa gambaran populer tentang pembunuh berseri psikopat yang tak waras telah menyembunyikan fakta betapa kebanyakan psikopat sebenarnya beroperasi di dalam koridor hukum yang berlaku, serta mereka berjumlah besar dan ada di hampir setiap bagian dalam kehidupan masyarakat.

Fiksi tentang psikopat memang mencekam. Tapi kehidupan nyata jauh lebih menakutkan.

[Ruang Baca Tempo, 25 Februari 2009]
Read More...

Knister dan Penyihir yang Tak Becus Menyihir

Setelah jadi idola anak Jerman selama 20 tahun, kini Walt Disney mengangkatnya ke layar lebar.

Apa jadinya jika mantera salah diucapkan? Yang jelas, kacau jadinya. Itulah yang dialami penyihir cilik Lilli. Semula dia cuma mau menyihir halaman bukunya jadi lengket, tapi karena mantera yang keliru, seluruh benda yang ada di kamarnya terbelah dua, persis seperti kalau ia membuka buku.

Serial Hexe Lilli (Penyihir Lilli) adalah buku anak populer Jerman yang lahir dari tangan Knister, pengarang berusia 57 tahun. Karena ditujukan untuk anak-anak, kisahnya pun dibangun secara lucu dan menarik bagi anak-anak. Dia tidak seserius keajaiban tongkat sihirnya Harry Potter, misalnya. "Lilli adalah tukang sihir yang tidak becus menyihir," kata Knister seraya tertawa.

Sebenarnya ini langkah strategis Knister dan penerbitnya untuk menyiasati pasar buku serial anak yang bertema penyihir cilik, seperti Bibbi Blocksberg dan Die Kleine Hexe. Buku-buku itu memang buat anak-anak tapi kurang jenaka. Maka lahirlah Lilli.

Perhitungan Knister jitu. Sejak terbit pertama kali lebih dari 20 tahun lalu, Hexe Lilli sudah terbit di lebih dari 40 judul, seperti Hexe Lilli und das Geheimnis der Mummie (Hexe Lilli dan Rahasia Mumi), Hexe Lilli im Land der Dinosaurier (Hexe Lilli di Negeri Dinosaurus), Hexe Lilli auf Schloss Dracula (Hexe Lilli di Istana Dracula), dan Hexe Lilli fliegt zum Mond (Hexe Lilli Terbang ke Bulan). Kisah petualangan Lilli ini menjadi idola anak-anak usia 6-12 tahun.

Hexe Lilli kini tak cuma muncul dalam bentuk buku, tapi juga beragam media lain, seperti audiobook, game komputer, musik, dan panggung teater. Begitu populernya Hexe Lilli, sampai-sampai penyihir itu juga muncul sebagai buku pelajaran tata bahasa dan kosa kata bahasa Inggris sederhana untuk anak-anak, seperti buku Let's read English - so macht Englisch Lernen Spaß! (Belajar Bahasa Inggris Menyenangkan Lo!).

Dua tahun lalu Hexe Lilli dilamar BBC. Bekerja sama dengan stasiun televisi Jerman WDR dan Canada Television, petualangan Hexe Lilli digarap ke dalam bentuk film kartun. "Baru kali ini BBC membuat film kartun berdasarkan buku anak-anak Jerman. Menurut mereka, guyonan Hexe Lilli bisa dimengerti anak-anak Inggris," tutur Knister, yang baru kembali dari Pameran Buku Anak Sedunia di Bologna, Italia, 23-26 Maret lalu. Maklum saja, selama ini Jerman dikenal cuma mampu menciptakan guyonan yang hanya dimengerti bangsanya sendiri.

Serial Hexe Lilli juga telah diterjemahkan ke dalam hampir 30 bahasa, termasuk bahasa Kroasia, Spanyol, Korea, Israel, dan Thailand. Penjualannya mencapai 17 juta eksemplar di seluruh dunia. Di luar Jerman, tokoh Hexe Lilli menyesuaikan diri dengan budaya dan pasar setempat, sehingga di Kanada dia menjadi Magic Lilli, di Spanyol jadi Super Abrujka Kika, dan di Italia jadi Martina. "Yang penting isi cerita tidak berubah. Nama disesusaikan dengan nama yang akrab di kuping anak-anak, itu kan bagus supaya bukunya juga lebih mudah diingat," kata Knister.

Nama Hexe Lilli semakin berkibar setelah baru-baru ini muncul di layar lebar. Film berdasarkan buku Hexe Lilli, der Drache und das Magische Buch (Hexe Lilli, Naga dan Buku Sihir) itu diproduksi oleh Walt Disney Studios Motion Pictures Jerman.

Hingga bulan ini, film tersebut sudah menyedot lebih dari 1 juta penonton cilik. Padahal, baru Februari lalu diputar serentak di seluruh Jerman. Film ini pun setidaknya dinominasikan di dua festival film Jerman, German Film Prize "Lola" dan Bayerischer Filmpreiz.

Keberhasilan ini memikat Walt Disney Studios Motion Pictures Hollywood untuk untuk menggarap film berikutnya. "Tapi, kali ini saya tidak mau kalau Hexe Lilli dibuat berdasarkan buku. Saya khawatir garapan cerita untuk film tidak sama dengan cerita buku dan penggemar cilik saya kecewa," kata Knister.

Maka, Knister kini sibuk menyiapkan skenario film yang rencananya bakal ditayangkan tahun depan itu. Skenarionya memang belum rampung, tetapi Knister sudah berfantasi bahwa penyihir cilik itu akan bertualang ke India, naik gajah dan salah menyihir ini dan itu.

[Sri Pudyastuti Baumeister, di Stuttgart-Jerman. Ruang Baca Tempo. 27 April 2009]
Read More...

Malahayati, Panglima Armada Para Janda

Dia adalah laksamana yang jadi panglima armada wanita pertama di dunia.

Perang itu pun pecah di Teluk Haru (Selat Malaka) di pengujung abad ke-16. Armada Portugal bentrok dengan armada Aceh. Kala itu armada Tanah Rencong dipimpin langsung oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil, pemimpin Aceh Darussalam selama 1589-1604, yang dibantu dua laksamana.

Pertempuran besar itu berakhir dengan kemenangan armada Aceh. Namun, korban yang jatuh di kedua belah pihak tidaklah sedikit. Portugal kehilangan ribuan serdadunya. Sekitar 1.000 mujahid Aceh juga meninggal, termasuk dua laksamananya. Salah satu laksamana itu adalah suami dari Laksamana Malahayati.

Dalam buku Malahayati Srikandi dari Aceh (Gema Salam, 1995) karya Solichin Salam disebutkan bahwa Malahayati bernama lengkap Keumala Hayati. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, tapi dia diketahui adalah putri Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayah adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah, yang memerintah Aceh sekitar 1530-1539. Sultan Salahuddin adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530), pendiri kerajaan Aceh Darussalam.

Malahayati adalah alumni jurusan angkatan laut di Mahad Baitul Makdis, akademi militer kerajaan Aceh yang dibangun atas bantuan pemerintahan Usmaniyah Turki di bawah Sultan Selim II. Di akademi yang sekitar 100 instrukturnya dari Turki inilah konon Malahayati bertemu dengan seorang calon perwira yang lebih senior yang kemudian menjadi suaminya setelah keduanya lulus. Sang suami kemudian menjadi seorang laksamana dan Malahayati diangkat Sultan menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Aceh Darussalam.

Karena suaminya gugur dalam perang Teluk Hara, maka Laksamana Malahayati memohon kepada Sultan Al Mukammil untuk membentuk sebuah armada yang semua prajuritnya adalah para janda yang suaminya gugur dalam pertempuran itu. Sultan mengabulkan dan mengangkat Laksamana Malahayati sebagai Panglima Armada Inong Balee (Armada Perempuan Janda).

Menurut Rusdi Sufi, dalam artikel "Laksamana Keumalahayati" di buku Wanita Utama dalam Lintasan Sejarah terbitan Kementerian Negara Urusan Peranan Wanita, salah satu kemungkinan alasan Sultan Al Mukammil mengangkat Malahayati sebagai laksamana adalah banyaknya intrik di istana kala itu. Sang Sultan sudah sepuh, usianya sekitar 94 tahun, sehingga isu mengenai suksesi dan upaya menyingkirkannya merebak di istana. Hal ini membuat Sultan curiga terhadap kaum lelaki, sehingga mengangkat perempuan sebagai laksamana. Pada waktu yang sama Sultan mengangkat pula Seorang perempuan, Cut Limpah, sebagai pemimpin dewan rahasia istana (intelijen).

Armada Inong Balee pimpinan Malahayati berpangkalan di Teluk Lamreh Kraung Raya. Bentengnya bernama Kuto Inong Balee yang dibangun di atas perbukitan yang tingginya 100 meter dari permukaan laut dan menghadap ke teluk. Temboknya, yang menghadap ke laut, tingginya tiga meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke laut. Sisa-sisa benteng itu masih ada di Aceh hingga kini.

Armada Inong Balee pada awal pembentukannya berkekuatan sekitar 1.000 janda. Tapi kemudian berangsur-angsur membesar menjadi 2.000 orang, yang tak hanya beranggotakan janda tapi juga gadis-gadis muda yang gagah berani.

Sebuah laporan dari masa itu menyatakan armada yang dipimpin Malahayati memiliki 100 kapal perang bersenjata meriam, yang sebagian mampu mengangkut 400-500 orang. Kekuatan angkatan laut Aceh pada masa itu termasuk yang terkuat di Asia Tenggara.

Salah satu peristiwa penting yang melibatkan Laksamana Malahayati adalah dalam menangani empat kapal dagang Belanda di bawah pimpinan dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman. Armada dagang yang dipersenjatai ini memasuki pelabuhan Banda Aceh pada 21 Juni 1599.

Ketika armada De Houtman berlabuh, mereka diterima selayaknya kapal dagang negara sahabat. Namun, air susu dibalas air tuba. Dua bersaudara itu mengkhianati kepercayaan Sultan Aceh. Mereka berkhianat dengan melakukan memanipulasi perdagangan, mengacau, dan menghasut.

Sultan lantas memerintahkan Panglima Armada Inong Balee Laksamana Malahayati untuk menyelesaikan pengkhianatan itu. Armada itu kemudian menyerbu armada De Houtman. Pertempuran satu lawan satu pun pecah di geladak kapal-kapal Belanda. Cornelis de Houtman mati ditikam rencong Malahayati dan Frederijk menjadi tawanan. Frederijk dipenjara selama dua tahun. Selama di bui, dia menyusun sebuah kamus bahasa Melayu-Belanda dan menerjemahkan injil ke bahasa Melayu.

Laksamana Malahayati memegang banyak jabatan penting. Selain memimpin Armada Inong Balee, dia juga menjadi panglima angkatan laut kerajaan Aceh dan komandan pasukan wanita pengawal istana. Malahayati juga dikenal sebagai seorang diplomat ulung.

Setahun setelah peristiwa De Houtman, Aceh dikhianati lagi oleh dua kapal dagang Belanda pimpinan Paulus van Caerden. Kapal Belanda itu merampok dan menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh yang bermuatan lada di pantai Aceh.

Akibat kelakukan Van Caerden, kedatangan armada dagang Belanda pimpinan Laksamana Jacob van Neck kena getahnya. Ketika rombongan Van Neck yang tak tahu apa-apa itu tiba di Aceh pada 31 Juni 1601, rombongan itu langsung ditangkap pasukan Malahayati.

Saat itu Belanda sedang sibuk berjuang melawan Spanyol yang ingin merdeka dan tak ingin menambah masalah dengan Aceh. Prins Maurits lalu mengirim surat kepada Sultan yang berisi permohonan maaf atas peristiwa masa lalu dan ingin mempererat hubungan Belanda dengan Aceh.

Maurits mengirim utusannya, sebuah rombongan yang terdiri dari empat kapal yang dipimpin Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker. Mereka tiba di Aceh pada 23 Agustus 1601. Kedua pemimpin itu berunding dengan Laksamana Malahayati dan menghasilkan beberapa keputusan, yakni perdamaian antara Belanda dengan Aceh, Frederijk de Houtman dibebaskan, Belanda membayar ganti rugi atas kapal-kapal yang dibajak Van Caerden sebesar 50 ribu gulden, dan Sultan mengirim tiga duta ke Belanda sebagai balasan.

Setelah Belanda, giliran Inggris yang ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Aceh. Ratu Elizabeth I (1558-1603) mengirim utusan yang dipimpin Laksamana Sir James Lancester ke Aceh pada 6 Juni 1602. Kedatangan Lancester disambut Laksamana Malahayati. Kedatangan utusan Inggris ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun Sultan Aceh, yang sangat bangga dengan kunjungan tersebut. Perundingan Malahayati dengan Lancester berlangsung dengan baik dan menyepakati terbangunnya hubungan diplomatik kedua kerajaan.

Malahayati wafat dalam sebuah pertempuran laut melawan armada Portugis di Teluk Krueng Raya. Tanggal wafatnya tak diketahui hingga kini, namun makamnya masih ada di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah bukit di desan nelayan Krueng Raya, 34 kilometer dari Kota Banda Aceh. Dia dimakamkan berdampingan dengan wakilnya, Laksamana Muda Pocut Meurah Inseun.

Malahayati adalah laksamana yang jadi panglima armada wanita pertama di dunia. Sebagai perbandingan, laksamana wanita pertama yang pernah tercatat dalam sejarah adalah Artemisya, permaisuri Raja Mosul di Anatolia, yang hidup pada tahun 480 sebelum Masehi.

Sebenarnya Aceh telah melahirkan banyak tokoh perempuan. Selain Cut Nyak Dien dan Cut Meutia yang sudah terkenal, Aceh juga memiliki tokoh-tokoh lain, seperti Putri Pahang, permaisuri dari Sultan Iskandar Muda, yang menggagas pembentukan Balai Majelis Mahkamah Raya, semacam parlemen di masa kini. Sayang, belum banyak literatur yang menggali kehidupan dan peran mereka dalam sejarah.

[Kurniawan. Ruang Baca Tempo. 27 April 2009]
Read More...
Berbagi di Facebook